Google

Monday, December 29, 2008

Wahai .. Para Raja, Presiden, dan Pemimpin Arab!

Di mana hati nuramimu?

Ketika engkau melihat umat Islam di Gaza sudah bergelentangan, bertahun-tahun menderita, akibat kerakusan Israel. Engkau tetap menutup pintu perbatasanmu. Tak mau berbelas kasihan terhadap saudaramu. Meskipun, sudah banyak diantara mereka yang mati, akibat sakit dan kelaparan. Bahkan, ketika mereka kelaparan dan mencuba masuk ke wilayah perbatasanmu, engkau usir. Engkau menjadi seakan orang-orang yang sudah kehilangan hati nurani dan kecintaan terhadap saudaramu, yang malang muslim Palestin. Engkau lebih mementingkan memelihara hubungan dengan Israel, Amerika, danEropah, dibandingkan dengan menyelamatkan saudaramu sesama muslim.

Engkau menyaksikan dengan mata telanjang, ketika pesawat F.16 dan Apache, Israel, menyerang kota-kota Gaza. Engkau melihat bangunan-bangunan luluh-lantak, mayat-mayat berserakan, bagaikan sampah dan ada di mana-mana, dan darah mengalir dari setiap tubuh mayat, serta menjadi pemandangan di sudut-sudut kota Gaza, masihkah hati nuranimu tak juga tersentuh? Engkau melihat ratusan muslim Palestina, yang mengerang kesakitan dengan luka-luka di tubuh mereka, dan masihkah engkau berdiam diri? Mengapa wahai Presiden Hosni Mubarak, engkau bertemu dan berjabat tangan Menteri Luar Negeri Israel, Tzipi Livni, sehari sebelum rejim Zionis-Israel melumatkan kota Gaza?

Engkau menyaksikan setiap hari peristiwa kematian yang dialami muslim Palestin. Engkau setiap hari melihat muslim Palestin yang tak berdaya, dan dihancurkan kehidupan mereka oleh rejim Zionis-Israel. Tapi, engkau malah berkomplot dengan kaum laknat itu, ikut menghancurkan muslim Palestin. Engkau melihat bangunan-bangunan, rumah-rumah, sarana-sarana hidup, dan tanah ladang, kebun, ikut dihancurkan para penjajah, yang biadab, tapi engakau malah tertawa-tawa, sambil menerima utusan pemerintahan rejim Zionis-israel, dan berunding. Engkau melihat kekejaman-kekejaman yang diluar batas perikemanusiaan, dan yang tak pernah dapat tertanggungkan oleh manusia, dan dialami oleh muslim Palestina, yang dilakukan rejim Zionis-Israel, tapi engkau malah membuat perjanjian rahsia dengan musuh kemanusia itu? Di mana hati nuranimu?

Wahai Para Raja , Presiden, Pemimpin Arab!

Kematian akan datang. Kematian akan dialami oleh muslim Palestin, di Gaza. Mereka semuanya akan menyongsong kematian,yang paling terhormat. Mereka akan menghadapi mesin perang rejim Zionis-Israel dengan gagah. Mereka tak akan mundur. Mereka akan menghadapi dengan teguh. Mesin perang yang sudah meluluh-lantakkan kota Gaza itu, pasti akan mereka hadapi. Apa ertinya kehidupan dan kemuliaan, bila harus dibawah kekuasaan dan penjajahan Israel? Mereka lebih mencintai kematian, dan tak akan berdamai dengan para musuh Allah Azza Wa Jalla, iaitu Zionis-Israel.

Apa ertinya kekuasaan dan kekuatan yang engkau miliki? Bila kekuasaan dan kekuatan itu tak dapat menghapus kemungkaran dan kezaliman? Apa ertinya kekuasaan dan kekuatan yang engkau miliki bila tak mampu menghapus kejahatan yang dilakukan oleh rejim Zionis-Israel. Lebih mulia, mereka yang sudah mati – mati syahid melawan penjajah, dibandingkan dengan kekuasaan dan kekuatan yang engkau miliki, tapi tak mampu membebaskan saudaramu muslim di Gaza.

Selamat berjuang saudaraku muslim di Gaza, jangan mengharapkan pertolongan dari manapun, kecuali dari Allah Rabul Aziz. Semoga engkau mendapatkan kemuliaan dari Allah Azza Wa Jalla.

http://eramuslim.com/

Thursday, December 11, 2008

Da'ie Juga Manusia

Ramai para da'ie akan melalui fasa seperti ini. Merasa bimbang diri akan terjatuh ke lembah kemunafikan. Setelah penat lelah berdakwah, timbul penyesalan pada diri, "Aku tak layak berdakwah!". Alasan seperti ini sudah tentu banyak yang kita dengan dari yang futur. Justru dengan mereka menghindar dari dakwah, keadaan diri mereka lebih parah. Jauh lebih tidak layak bergelar muslim sejati.

Hanzalah bin Ar-Rabi' seorang sabahat Rasulullah yang tidak pernah surut semangat jihadnya juga tidak terlepas perasaan seperti itu. Sebagai manusia biasa, Hanzalah bisa merasakan lelah dalam beramal dan terbuai-buai dengan "urusan-urusan" dunia.

Disebut dalam satu riwayat, dia berkata, "Suatu saat, Abu Bakar ra menemui saya dan menyapa, "Apa khabar, wahai Hanzalah? Saya jawab, "Hanzalah telah menjadi munafik." Dia berkata, "Subhanallah! Apa yang kamu katakan?" Saya jawab, "Bagaimana saya tidak munafik. Jika saya hadir di samping Rasulullah beliau mengingatkan saya dengan syurga dan neraka, saya melihat seolah-olah syurga di depan mata. Tapi, bila pulang ke rumah bertemu anak isteri semuanya dilupakan dan saya tenggelam dalam urusan dunia." Abu Bakar berkata, "Demi Allah, saya juga seperti itu, wahai Hanzalah." Maka kami menghadap Rasulullah.

Saya berkata, "Wahai Rasulullah, Hanzalah telah menjadi munafik." Beliau bertanya, "Ada apa wahai Hanzalah?" Saya berkata, "Wahai Rasulullah, apabila kami hadir di majlis-majlismu dan engkau mengingatkan kami dengan syurga dan neraka, kami melihat seolah-olah syurga berada di depan mata. Tapi kalau sudah pulah ke rumah bertemu dengan anak dan isteri, semuanya dilupakan dan kami tenggelam dalam keasyikan urusan dunia."

Rasulullah saw pun berkata,
"Demi Allah yang diriku berada dalam genggamanNya, seandainya kami selalu dalam kondisi seperti ketika kami di sisiku dan selalu ingat, (akan akhirat dan ketaatan kepada Allah), tenti para malaikat akan selalu menyertai kami di tempat tidurmu maupun di jalan-jalan. Tetapi sewaktu-waktu, wahai Hanzalah, sewaktu-waktu." Rasulullah saw mengulangi kalimah "sewaktu-waktu" sebanyak tiga kali. (hr Muslim)

Maksud Rasulullah, ada saatnya kita berada dalam ingatan akan akhirat dan ketaatan kepada Allah, tetapi pada waktu lain juga bisa tenggelam dalam kesibukan dunia, harta dan keluarga, sehingga kehidupan akhirat seolah-olah dilupakan. Itu adalah hal yang manusiawi. Tetapi tidak sebagai alasan untuk menjadi talam dua muka. Ketika di kampus rajin solat berjamaah tetapi di rumah asyik di depan tv lalu dengan senang hati berkata aku ini manusia, apa boleh buat.

"Setiap amal ada masa semangatnya, dan setiap semangat ada masa lelahnya. Barangsiapa yang lelahnya dalam sunnahku (tidak bermaksiat), maka dia memperoleh petunjuk. Dan barangsiapa yang lelahnya di luar itu maka dia telah tersesar." (hr al-Bazzar dari Ibnu Abbas)

Wednesday, December 10, 2008

Menjadi Soleh dengan Berdakwah

Menjadi soleh adalah satu kemestian bagi setiap Muslim kerana ianya isi al-Quran itu sendiri. Jika tidak mengamalkan al-Quran, apalagi nilai seorang muslim? Lebih-lebih lagi yang mengaku da'ie. Jika da'ienya tidak soleh, bagaimana bisa dibayangkan satu masyarakat akan menjadi baik? Mustahil. Faqidu syai'in la yu'thi kan? Tetapi, untuk menjadi soleh bukan hal yang mudah. Termasuk bagi yang dikenal sebagai da'ie.

Saya bertemu seorang ikhwah yang dah lama tak muncul. Saya tanyakan, "Mengapa?" Jawabnya, "Saya tak sangguh menjadi da'ie. Bagaimana saya mengajak masyarakat, sementara saya sendiri jauh dari nilai yang saya serukan?" Ingatkah akan firman Allah, "Wahai orang-orang yang beriman, mengapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amar besar kebencian di sisi Allah bahawa kamu mengatakan yang tidak kamu kerjakan," (61:2-3)

Apalagi jika kita renungkan firman Allah swt, "Dan diantara manusia itu ada yang mengatakan, 'Kami beriman kepada Allah dan hari Akhirat,' padahal sesungguhnya mereka itu bukanlah orang-orang yang beriman." (2:8)

Ayat ini berbicara tentang orang munafik yang suka mengatakan kebaikan tetapi hati mereka mengingkarinya. Dalam hal ini ibnu Kathir menjelaskan, kemunafikan ada dua jenis: pertama, nifaq i'tiqadi (munafiq sejati). Para ulama' sepakat, mereka ini kafir dan kekal di dalam neraka. Kedua, nifaq 'amali. Ini termasuk dosa-dosa yang sangat besar. Juga masuk neraka, tetapi tidak kekal kerana masih muslim.

Itu bererti mereka yang suka mengatakan, terlebih mengajak pada kebaikan tetapi sendiri tidak melaksanakannya, termasuk dalam ketegori munafik yang kedua. Na'uzubillah. Tentu, tidak ada seorang pun yang punya hati ingin jadi munafik. Maka, "Lebih baik tidak berdakwah daripada jatuh ke dalam kemunafikan," ulah yang biasa dijadikan alasan futur dalam dakwah.

Saya memahami 100% perasaan seperti itu. Jujur saja, fikiran seperti ini pernah hinggap di benak saya. Alhamdulillah, Allah melindungi saya dari terus dihantui. Saya memahaminya sebagai penyakit mental yang dimasukkan syaitan dalam jiwa para da'ie yang ikhlas berdakwah di jalan Allah. Syaitan memang tidak ingin dakwah dan tarbiyah berkembang dan berkibar di muka bumi. Maka, dicampakkanlah ke dalam hati para da'ie sikap ragu-ragu.

Human Basic Need

Dakwah adalah keperluan manusia secara universal. Ertinya, setiap manusia, di mana pun ia berada, tidak akan pernah bisa hidup dengan baik tanpa dakwah. Dakwahlah yang akan menuntun manusia pada kebaikan. Maka, jangan pernah terfikir untuk menjauh dari dakwah dengan alasan apa pun. Semakin kita merasa berat meniti jalan Islam, semakin besar pula keperluan kita terhadap dakwah.

Rasa Tanggungjawab

Satu kenyataan yang harus kita sedar, jika dengan mengajar kita akan bisa optimum dalam belajar, maka dengan dakwah kita akan lebih optimum menjadi baik. Mengapa? Ini menyangkut rasa tanggungjawab sosial kita. Ertinya, jika kita mengajak orang lain kepada kebaikan, pada masa yang sama juga kita mengajak diri sendiri. Fitrah kemanusiaan akan menggerakkan kaki kita. Ianya 'common sense' untuk merasa malu jika kita mengatakan apa yang tidak kita kerjakan.

Jangan risau, rasa tanggungjawab akan tumbuh dan berkembang seiring proses kedewasaan kita. Dalam hal ini, jika kita aktif berdakwah maka rasa tanggungjawab itu akan tumbuh dengan sangat kuat dalam diri kita untuk menyesuaikan antara apa yang akan kita lakukan dengan aya yang kita katakan.

Lingkungan Sosial Dakwah

Dengan berdakwah, seorang da'ie akan selalu berada dalam lingkungan sosial dakwah. Sebahagian ahli sosiologi berpendapat, lingkungan sosial memberi pengaruh lebih dominan bagi seseorang berbanding fakto-faktor lain.

Ketika berdakwah, sebenarnya kita sedang membina keadaan yang kondusif untuk kita menjadi baik. Di sana kita akan mendapat tempat istimewa di mata masyarakat. Mereka memandang kita sebagai teladan. Mahu tidak mahu, dipaksa oleh keadaan untuk menjadi contoh. Kerana menjadi contoh, kita akan bersikap sangat hati-hati. Jangankan berbuat maksiat, bahkan ketawa pun akan berhati-hati.

Dengan demikian, seorang da'ie berpeluang menjadi da'ie tiga kali ganda daripada yang bukan da'ie. Itu kerana ketika mengingatkan orang lain untuk istiqamah dalam kebaikan, sesungguhnya, pada saat yang sama mengingatkan diri sendiri. Kan kalau jari telunjuk dituding ke depan, pada masa sama tiga jari lain menunjuk diri kita sendiri? Lebih kurang lah gamabarannya.

Maka, adalah sangat keliru jika kerana takut dimurkai Allah kerana mengatakan apa yang tidak kita kerjakan, lalu kita tinggalkan dakwah. Justru dengan rasa takut dimurkai Allah kalau mengatakan apa yang tidak kita lakukan itu memacu kita lebih cepat lagi dalam memproses diri untuk menjadi lebih baik dan terus semakin baik.

Itu bererti kita harus lebih kencang dalam dakwah dan tarbiah!!!

Sunday, December 07, 2008

Kegagalan Tarbiyyah

Kegagalan tarbiyah bisa terjadi ketika proses tarbiyah sedang berjalan, tetapi juga bisa terjadi di awal proses. Persimpangan persepsi tentang tarbiyah memberi kesan besar dalam membelokkan substansi tarbiyah sejak awal. Kita dapat menyimpulkan lima kesalahan persepsi tentang tarbiyah.

Pertama, tarbiyah dipandang semata-mata sebagai penyampaian bahan. Oleh sebab itu, yang dimaksudkan dengan sudah atau belum 'menyampaikan bahan' adalah sudah atau belum memperdengarkan atau menyajikan bahan tersebut kepada mad'u. Di sisi yang lain, mutarobbi merasa sudah mendapat bahan jika sudah pernah mendengar pengisian. Persepsi ini menyederhanakan tujuan tarbiyah sebagai pengawal dalam pembentukan fikrah dan harakah.

Kedua, persepsi bahawa murobbi adalah segalanya bagi mad'u adalah hal yang dianggap 'aib' bagi penganut 'mazhab' ini apabila mad'u memiliki kompetensi yang lebih baik daripada murobbi dalam beberapa bidang. Persepsi ini menyebabkan alternatif yang terjadi adalah pilihan buruk di antara hal-hal buruk berikut:

  1. Mad'u menjadi kerdil bagai katak di bawah tempurung.
  2. Mad'u memberontak dan sentiasa terjebak dalam ketidakpuasan.
  3. Mad'u berkembang sejajar dengan tarbiyahnya, tetapi memiliki batas yang jelas, iaitu setinggi kemampuan murobbinya dan mustahil melebihinya.
Ketiga, tarbiyah dianggap sebagai proses doktrin dan dominasi. Murobbi menerapkan persepsi keberhasilan tarbiyah adalah ketika mad'u memiliki 'kesetiaan', tsiqah dan menjadi pendukung murobbi.

Keempat, sistem dan metode tarbiyah dipersepsikan sebagai hal yang baku. Contohnya berdasarkan pendekatan waktu, berurutan, dan tidak bisa di bolak-balik. Pendekatan ini menyebabkan seseorang yang memiliki potensi yang lebih besar tidak dapat mengambil yang lebih besar. Metogologi one wat traffic, white board, dan teknikal lain dianggap sesuatu yang harus ada. Sedangkan seminar, diskusi, tayangan, dan teknologi penyampaian lainnya tidak digunakan kerana dianggap mengurangi 'nilai' tarbiyah. Akibat lainnya adalah bahan disampaikan tidak berdasarkan keperluan mad'u.

Kesalahan persepsi yang kelima adalah kecenderungan untuk melakukan 'cloning' murobbi atau fotokopi murobbi. Kecenderungan hobi, syu'ur, selera, kegemaran dan beberapa hal yang sebenarnya merupakan privacy murobbi tiba-tiba menjadi muwashofat dan ukuran keberhasilan tarbiyah

Saturday, December 06, 2008

Da'ie dan Movie?

Nak dijadikan cerita, ada seorang sahabat datang mengadu dimarahi teruk ayah gara-gara kerja men'delete' movie dan series ayahnya secara tidak sengaja. Banyak gigabyte juga yang hilang. 300GB komputer, penuh dengan movie, series, anime dan lain-lain. Belum ditambah lagi yang telah di'burn' ke dalam DVD yang bertimbun.

"Bodoh!! aku download berminggu-minggu!! Kurang ajar punya budak!! kata-kata pedas dari ayahnya yang keras kepala.

Perkara ini kelihatan wajar jika ayahnya hanya orang biasa yang tidak pernah ditarbiyyah ataupun yang telah islam sejak lahir tapi tidak komitted mengamalkan ajaran Islam sepenuhnya. Tetapi jangan terkejut jika saya katakan ayahnya merupakan mantan setiausaha agung sebuah jamaah islam.

Adakah kita merasa pelik? atau sikap kita biasa-biasa saja. Saya tertarik dengan status mantan setiausaha agung sebuah jamaah islam yang dimiliki ayahnya. Dah nama pun jemaah islam, mestilah mengaku dirinya berdakwah. Buat itu, buat ini yang saya percaya semuanya hanya lebih kepada kerja-kerja pengurusan. Sikap-sikap seperti ini kalau dianalisa pasti kita akan lihat satu kesamaan antara pelaku-pelakunya. Bagi saya, ayahnya itu tak ubah seperti Raja Namrud yang membakar Nabi Ibrahim kerana menghancurkan berhala-berhala milik Raja Namrud.

Fokus saya di sini adalah movie yang jelas-jelas haram, yang mempamerkan wanita-wanita yang tidak menutup aurat (ada ke movie barat yang wanita tutup aurat? yang tak tutup pun pakaian tidak sopan) lebih-lebih lagi yang menontonnya adalah seorang yang mengaku da'ie? Saya percaya ayahnya akan menonton secara istiqamah kerana size 300gb itu bukan sekejap untuk khatam.

Mari kita kaji perilaku ayah dia ini. Siapa yang pernah mengalami, tahu-tahu sendiri lah ya. Ayahnya dah tentu bekerja. Kebiasaannya jam 8 pagi hingga 5 petang. Ayahnya juga seorang manager. Selalu balik malam. Pada pendapat saya, dia tidak akan menonton berhala-berhala yang didownload di pejabat. Jadi, masanya di rumah pasti dia akan gunakan sebaiknya.

Bermula dari sampai di rumah, terus on computer, menonton berhala kesayangan sehingga larut malam sampaikan terpaksa menunda solat isya' ke saat-saat akhir dek kerana tertidur sewaktu menonton berhalanya. Secara tidak langsung, masanya ditiadakan untuk anak-anak. Dia tidak kisah akan anak-anak, lalu anak-anak tidak akan kisah akan bapanya.

Kenapa saya sebut berhala? Kerana berhala ini sesuatu yang kita sembah, yang amat kita cintai dan sedia mengorbankan segalanya kerana berhala ini. Jadi tidak salah jika saya sebut berhala, kerana dia sanggup mengorbankan pandangan orang lain terhadap dia, mengorbankan anak-anak, mengorbankan masa dan sebagainya.

Kalau yang tadi, bapaknya. Sekarang kita cermin diri sendiri, lihat di sekitar kita. Kita bisa lihat bagaimana menonton movie dan series ini seperti menjadi satu kebiasaan bagi kita. Dari yang aktif berdakwah sehingga la yang duduk termenung goyang kaki. Yang dah sibuk bertambah tiada masa, yang menang banyak senggang masa terus takda masa.

Saya tahu diluar sana masih ramai lagi para da'ie yang mengambil enteng akan hal ini. Ada yang nonton Naruto, Bleach, dan lain lagi. Sehingga tahu episod berikut bila bisa di download. Bisa cerita dari mula hingga episod semasa. Untuk berehat? Di manakah tahajud yang menjadi rehat dari dunia yang melelahkan? Apakah rehat seorang da'ie itu dengan memuskan hawa nafsu?

"Akhi, anta dah tengok Quantum of Solace?"

Wah, sekali imbas lunak dan sopan sungguh pertanyaannya. Tapi ramai juga da'ie-da'ie moden ini yang menjawab "masih belum". Apa ini?

Saya ingin berkongsi beberapa sebab yang menjadikan mereka ini tengok movie keluaran terbaru. "Nak catch up supaya tidak ketinggalan bersama mad'u". Waduh-waduh, dahlah murobbinya pun tengok movie berlumba pulak dengan mutarobbi. Nanti bolehlah ikhwah wujudkan satu pawagam untuk ikhwah akhwat (asing ye) sebab semua dah ditarbiyyah tengok movie. Apakah tidak cukup dengan hanya membaca preview atau story plot saja? atau kita lebih rela menghabiskan masa dan menggadaikan keimanan kita dengan melihat aurat wanita?

"Banyak pengajaran yang boleh diambil". Apa lagi yang kalian perlu selain Al-Quran dan Hadith? Sirah para sahabat? Bahan bacaan yang bermanfaat? Dokumentari yang ilmiah? Kenapa mesti movie tayangan perdana? atau movie top ten? Jauh di sudut hati "Rasa best bila tengok movie, enjoy, releks," rasa-rasa hawa nafsu.

Wahai para da'ie, ketahuilah akan bahaya ini dosa kecil ini. Ia seharusnya menjadi takutan umat yang mengaku da'ie ini melainkan jika dia hanya mengaku da'ie tapi tidak bekerja sebagai da'ie. Atau lebih dikenali sebagai da'ie olok-olok. Saya tidak tahu jika masih ada di antara kita yang terus beralasan untuk membenarkan perkara lagho dan bisa menambah dosa ini.

Bermula dengan melihat movie secara kecil-kecilan, bintik-bintik hitam akan mula menutupi hati sehingga membekas seperti marker permanent lalu cahaya ilahi akan sukar masuk ke dalamnya dan hasutan iblis mudah mendekati dan menempel.

Lalu timbul pula dosa-dosa lain yang lebih berat. Tinggal solat, mudah marah (orang yang pentingkan diri akan mudah marah, dan tanda orang yang pentingkan diri adalah orang yang suka mengikut hawa nafsu) dan seterusnya.

Wahai da'ie diluar sana!
Kalian kata kalian berdakwah. Tapi kalau perkara seperti ini tidak dapat kalian pelihara, lupakan saja medanmu kerana hati-hati kalian telah dikotori.

*Penonton movie yang saya gambarkan adalah yang menonton kebanyakan movie. Semua nak tengok. Saya juga menonton movie, Children of Heaven, Paradise Now dll yang boleh dikira dengan jari. Yang peliknya yang berjaya penuhkan hard-disc dengan movie dan series. Takkan simpan saja? mestilah tengok?

Wednesday, July 09, 2008

Pribadi Hebat Seorang Murobbi

Sosok itu begitu melekat dalam pikiran saya. Saya mengenalnya hampir 19 tahun. Semenjak saya lahir, sampai kemudian, ia meninggalkan dunia yang nista ini. Ustadz Rahmat, pernah menjadi guru di SMP saya, SMPIT Iqro'. Ia mengajar pelajaran tafsir qur'an. Dulu, pelajarannya bagi saya tidak terlalu menarik. Karena dulu waktu SMP, jamannya saya lebih suka mantengin mtv ketimbang belajar. Imbasnya, kelakuan saya nggak beda sama remaja kebanyakan. Hapalan qur'an selalu menjadi rutinitas yg ngebosenin. Sholat juga jadi hambar. Jilbab, nggak kepingin lebar-lebar. Rasanya, sedada juga udah katro (xtrendy) banget... Astaghfirullah...

Begitulah saya dulu.Ups, kenapa malah nginget2 seseuatu yg penginnya saya kubur dalam-dalam? (pengennya, ingatan saya yg SMP terhapus. Jadi ingatan saat SD langsung loncat ke SMU).Tiap pelajaran Ustadz Rahmat, saya ngerasa bosan. Walaupun terkadang ia menceritakan hal2 yg menarik...dan sekarang saya menyesal. Kenapa dulu, di sebuah kesempatan selama dua jam itu, saya tidak berusaha menggali ilmunya yg luas. Padahal, ia punya murid lain yg menanti taushiyahnya, yg tidak akan menyia-nyiakan satu patah katapun yang keluar dari mulutnya, sementara kamir12;atau saya, lebih banyak nguap di kelasnya.

Pernah, suatu ketika, Ustadz Rahmat marah karena tidak ada satu muridpun di kelas yang sudah menghapal surat Ali Imran ayat 103. Hanya satu ayat saja kami diminta menghapal. Tapi tak ada satupun, kecuali anaknya yg sekelas dengan kamir12;Thariq. Sebelum ia meluapkan kemarahannya, ia membuka dompet kulitnya warna cokelat. Mengambil selembar uang sepuluh ribu. "Saya tantang kalian. Saya akan berikan uang ini bagi siapa saja yg sudah hapal!"

Senyap. Tawaran naik. 20 ribu rupiah. Senyap pula.
Tambah naik. 50 ribu rupiah. Masih senyap! Bayangkan, Ustadz Rahmat akan memberikan uang 50 ribu rupiah untuk siapapun yg sudah menghapal surah Ali Imran ayat 103! Tidak semua ayat! Hanya ayat 103! Tapi tak ada yg bergeming! Betapa keterlaluannya kami!

Dengan lemas, dan muka memerah, ia memasukkan uang itu kembali ke dompetnya. Saya lihat, saat itu, wajah Thariq juga memerah. Apakah ayahnya tak pernah terlihat sekecewa ini di rumahnya, sehingga anaknya sendiri takut? Ataukah Thariq marah pada kami karena kami telah membuat marah ayahnya?

Ustadz Rahmat menyandarkan bahunya ke kursi. Saya tahu, ia tengah beristighfar. Dan perasaan bersalah menyusup ke dalam hati saya. Seberapa susah menghapal satu ayat saja? Kenapa saya lalai? Bukan uang 50 ribu yang saya sesali. Tapi saya menyesali diri saya yang bodoh dan malas. Penawaran Ustadz Rahmat hingga sebesar itu, seperti sebuah tamparan di wajah saya. Secara tidak langsung, Ustadz telah menegur saya;kami semua, betapa malasnya kami hingga perlu diberikan uang 50 ribu hanya untuk satu ayat! Di luar sana, muridnya yang lain tak perlu iming2 uang untuk menghapal qur'an! Murid-muridnya justru mengejar-ngejar dirinya untuk bertemu sebentar, menggali ilmu yg berharga darinya...

Tapi kami...dua jam bersamanya seminggu dua kali dengan kuapan rasa bosan... Tapi kami, yang orangtua kami adalah sahabat Ustadz Rahmat, tidak menghargainya sama sekali! Satu ayat dari mulut kami, akan dibeli oleh Ustadz! Bukankah itu tindakan yg kurangajar dari seorang murid?

Tak ada istilah murid kencing berdiri, guru kencing berlari untuk kami. Yang ada, kami kencing berlari, sementara guru kami, yg menjadi inspirasi bagi banyak orang itu, mengejar-ngejar kami agar tidak kencing sembarangan. Kami ibarat anak idiot berumur 14 tahun...Beberapa menit setelah keheningan menyelimuti kami, Ustadz Rahmat berdiri. Ia mengambil spidol, dan akan menuliskan sesuatu. Beberapa di antara kami bernapas lega.Dan ia, merupakan satu-satunya guru yg tidak dibayar di sini. Ustadz Rahmat melempar blackmarker itu ke meja. Ia tidak pernah melakukan ini sebelumnya. Ia begitu lembut, dan kali ini, karena kami, ia marah. "Tak sadarkah kalian, bahwa kalian adalah penerus Ummi dan Abi kalian?" hanya itu yang keluar dari mulutnya. Sebelum ia keluar ruangan, meninggalkan kami dalam lautan rasa bersalah yg selalu datang belakangan...

Thariq, di tempat duduknya, hanya merunduk. Mukanya memerah padam.

***

Kematian itu datang dalam diam. Bapa saya, saya memanggilnya Abi, belum pulang dari kantor. Saya tengah belajar soal-soal SPMB (exam nak masuk univesity) kt ruang kerja. Kemudian, handphone Ummi berdering. Ada telpon dari Abi. Ummi menerima telpon itu. Detik berikutnya, Ummi mengucapkan, "innalillahi..." dan ia menangis deras saat itu juga. Perasaan saya tidak enak. Kalau Ummi langsung menangis, berarti telah terjadi apa-apa pada orang yg begitu dekat dengannya. Saya dan adik-adik bertukar pandang. Apakah saudara kami terkena musibah?

Ummi menutup handphone. "Kenapa, Mi?" tanya kami semua hampir serempak. Sesenggukan, dan setelah beberapa saat, Ummi menjawab, "Abi-nya Isda..." Milla, adik saya yang nomor tiga, yang saat itu masih kelas 1 SMP (year 1), segera bereaksi. Isda adalah teman sekelasnya. Dan kami semua tahu, siapa Abi-nya Isda; Ustadz Rahmat Abdullah... Kami semua terdiam. Ingatan saya, ketika kami SMP, ketika kami membuat marah Ustadz Rahmat, kembali lagi...saat ini, di mana saya sudah mengenal makna tarbiyah, di mana saya sudah mengazzamkan dalam diri saya bahwa dakwah adalah jalan kami, penyesalan itu datang lebih berkali-kali lipat. Seperti ada bongkahan batu seberat 1 ton yang berusaha memuatkan dirinya ke bilik-bilik jantung saya. Begitu sesak...

Saya ikut menangis. Menangisi kepergian Ustadz Rahmat yang telah memberikan nama pada saya dan keempat adik sayar12;ketika kami semua lahirr12;dengan nama yang indah dan penuh do'a. Saya menangisi kelalaian saya untuk menghabiskan waktu bersamanya, belajar lebih dalam tentang Islam. Saya menangisinya karena kepergiannya, begitu cepat. Kenapa justru di saat saya sadar siapa Ustadz Rahmat sebenarnya. Kenapa justru di saat saya tahu, bahwa ialah yang telah menananm benih-benih azzam di hati para pejuang dakwah hingga dakwah maju seperti saat ini? Kenapa justru saya baru mempelajari profile-nya, bahwa ia, bahkan, SMA saja tidak lulus tapi mampu membeberkan hukum kekekalan massa dan mengaitkannya dengan ayat Qur'an di kelas kami dulu? Abi pulang tiga puluh menit kemudian setelah menelepon. Matanya memerah. Ia katakan, bahwa ia menangis sepanjang perjalanan. Lalu, kami semua menangis bersama di ruang tamu... Jam 9 malam, Abi pergi ke rumah Ustadz Rahmat. Hingga besok siang, ia di sana, berkumpul bersama teman-temannya, sesama murid Ustadz Rahmat. Saya memahami kedukaannya. Ia salah satu assabiqunal awwalun.

Ia diasuh langsung oleh Ustadz karena dulu mereka bertetangga. Dari awal mengenal tarbiyah lewat halaqah, Abi tidak pernah berganti murabbi. Ia merasakan asam-manisnya perjuangan dakwah. Merasakan pula bagaimana dulu harus sembunyi-sembunyi ketika liqo'. Murabbinya, hanya satu itu, Ustadz Rahmat. Dan kehilangannya, adalah duka yang lebih dalam seperti saat kehilangan Ayahnyar12;kakek saya.

Setelah ditinggal pergi Ustadz Madani, yg dulu sering meledek saya, dunia tarbiyah ditinggalkan oleh syekhnya, Ustadz Rahmat... Orang baik, selalu akan mati cepat... Tapi, saya yakin, kematian mereka, bukanlah untuk kita ratapi terus-menerus. Hendaknya, rasa kehilangan itu menjadi cambuk buat kita untuk meneruskan perjuangannya. Untuk membuktikan pada dunia, bahwa dakwah must go on, walaupun satu persatu pejuang dakwah telah berpulang ke kampung akhirat...

Hingga kini, saya masih ingat kata-kata Ustadz Rahmat. "Tak sadarkah kalian, bahwa kalian adalah penerus Ummi dan Abi kalian?" Pertanyaan itu bergaung dalam relung hati. Pertanyaan itu yang kemudian membawa saya meninggalkan masa SMP yang memalukan. Dan menyadari, bahwa saya, adalah anak yang mendapatkan hidayah secara 'instant'. Saya adalah anak yang telah tertarbiyah sejak keluar dari rahim Ummi. Pantaskah, saya menolak tongkat estafet yang telah disodorkan oleh orangtua yang hanif? Pantaskah saya menolak satu nikmat yang telah Allah berikan pada sayar12;berupa hidayah yg menyapa saya?

Rabbi...berikan guru kami tempat yang paling baik di sisiMu. Dan izinkanlah hamba, bertemu kembali dengannya, di syurgaMur12;walau mulut ini, rasanya tak pantas memohon itu karena dosa hamba yang berlimpah...

Jati Mekar sunyi, 20 April 2008.
Diiringi nasyid Izzis, Sang Murabbi.
Dan airmata berlinang-linang membasahi pipi.

Tuesday, June 24, 2008

Cinta Sahabat Kepada Rasul

“Tidak sempurna iman seorang di antara kamu sebelum ia lebih mencintai aku daripada mencintai ibu-bapaknya, anaknya, dan semua manusia” (HR Bukhari).

Semalam, sewaktu menghadiri halaqah, terlalu banyak cerita cinta yang dinukilkan sehingga bisa membuatku menangis. Mengenangkan kisah-kisah perngorbanan dan cinta para sahabat terhadap Rasulnya. Cinta yang tiada berbelah bagi, tiada sangsi. Cinta yang membuahkan kejayaan dan kekuatan.

Mereka meletakkan cinta Allah dan Rasulnya melebihi segalanya. Mereka telah membuktikan bahawa cinta itu lahir dari keimanannya yang sebenar benarnya. Di atas dasar iman, mereka sangat setia mendampingi beliau, baik dalam susah maupun senang, dalam damai maupun perang.

Kecintaan mereka itu bukan hanya di lidah, melainkan terwujud dengan perbuatan nyata. Betapa cinta sahabat kepada Rasulullah SAW, tergambar ketika Rasulullah SAW bersama Abubakar ash-Shiddiq beristirahat di Gua Tsur dalam perjalanan hijrah dari Makkah ke Madinah secara sembunyi-sembunyi. Kala itu Rasuklullah SAW tertidur berbantalkan paha Abubakar. Tiba-tiba Abubakar merasa kesakitan karena kakinya digigit kalajengking. Tapi, dia berusaha sekiat tenaga menahan sakit, hingga mencucurkan airmata, jangan sampai pahanya bergerak – khawatir Rasulullah SAW terbangun.

Salah seorang sahabat, Zaid bin Datsima, tak gentar menghadapi ancaman kaum kafir karena begitu luar biasa kecintaannya kepada Rasulullah SAW. Ketika itu, ia sempat disandera oleh kaum musyrik Makkah dan akan dibunuh. ”Hari ini, tidakkah engkau berharap Muhammad akan bersama dengan kita sehingga kami dapat memotong kepalanya, dan engkau dapat kembali kepada keluargamu?” kata Abu Sufyan kepadanya. “Demi Allah, aku tidak berharap sekarang ini Muhammad berada di sini, di mana satu duri pun dapat menyakitinya – jika hal itu menjadi syarat agar aku dapat kembali ke keluargaku,” jawab Zaid tegas. “Wah, aku belum pernah melihat seorang pun yang begitu sayang kepada orang lain seperti para sahabat Muhammad menyayangi Muhammad,” sahut Abu Sofyan. Kisah kecintaan sahabat kepada Rasulullah SAW banyak diungkapkan dalam sejarah.

Salah satunya ditunjukan oleh Umar bin Khatthab. ”Ya, Rasulullah. Aku mencintaimu lebih dari segalanya, kecuali jiwaku,” kata Umar. Mendengar itu, Rasulullah SAW menjawab, ”Tak seorang pun di antara kalian beriman, sampai aku lebih mereka cintai daripada jiwamu.” Hari Kiamat ”Demi Dzat yang menurunkan kitab suci Al-Quran kepadamu, aku mencintaimu melebihi kecintaanku kepada jiwaku sendiri,” sahut Umar spontan. Maka Rasulullah SAW pun menukas, ”Wahai Umar, kini kamu telah mendapatkan iman itu” (HR Bukhari).

Penhormatan dan pemuliaan terhadap Rasulullah SAW memang merupakan perintah Allah SWT. Firman Allah, “Sesungguhnya Kami mengutus engkau sebagai saksi, pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, supaya kamu sekalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, menguatkan-Nya, membesarkan-Nya, dan bertasbih kepada-Nya di waktu pagi dan petang (QS Al Fath : 8-9).

Sebuah ayat menekankan pentingnya kecintaan terhadap Allah SWT dan Rasulullah SAW, ”Katakanlah (wahai Muhammad), jika ayah-ayahmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, isteri-isterimu, keluargamu, harta kekayaanmu, perdagangan yang kamu kekhawatirkan kerugiannya, dan rumah yang kamu senangi, lebih kalian cintai dari pada Allah dan Rasul-Nya, dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak akan memberi hidayah kepada orang-orang fasik” (QS At-Taubah: 24).

Kecintaan kaum muslimin kepada Rasulullah SAW juga merupakan faktor penting bagi keselamatannya di hari kiamat kelak. Hal itu terungkap ketika suatu hari seorang sahabat bertanya kepada rasulullah SAW, ”Kapankah datangnya hari kiamat?” Maka jawab Rasulullah SAW, ”Apa yang sudah engkau persiapkan untuk menghadapinya?” Jawab sahabat itu, “Saya tidak mempersiapkannya dengan banyak shalat, puasa, dan sedekah, tapi dengan mencintaimu dalam hati.” Lalu, sabda Rasulullah SAW, ”Insya Allah, engkau akan bersama orang yang engkau cintai itu.” Menurut Ibnu Mas’ud, Abu Musa al-Asy’ari, Shafwan, dan Abu Dzar, Rasulullah SAW telah bersabda mengenai seseorang yang dengan tulus mencintainya, ”Seseorang akan berada di Yaumil Mahsyar bersama orang yang dicintainya.” Mendengar itu, para sahabat sangat berbahagia karena mereka sangat mencintai beliau. Suatu hari seorang sahabat hadir dalam majelis Rasulullah SAW, lalu berkata, “Wahai Rasulullah, aku saya mencintaimu lebih dari mencintai nyawa, harta dan keluargaku. Jika berada di rumah, aku selalu memikirkanmu. Aku selalu tak bersabar untuk dapat berjumpa denganmu. Bagaimana jadinya jika aku tidak menjumpaimu lagi, karena engkau pasti akan wafat, demikian juga aku. Kemudian engkau akan mencapai derajat Anbiya, sedangkan aku tidak?” Mendengar itu Rasulullah terdiam. Tak lama kemudian datanglah Malaikat Jibril menyampaikan wahyu, ”Dan barang siapa menaati Allah dan Rasul-Nya, mereka akan bersama orang yang diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi, shiddiqin, syuhada, dan shalihin. Mereka adalah sebaik-baik sahabat, dan itulah karunia Allah Yang Maha Mengetahui” (QS An-Nisa : 69-70).

Kecintaan para sahabat kepada Rasulullah SAW inilah pula yang menggerakkan mereka menyebarkan berdakwah ke seluruh penjuru dunia. Terduduk Lemas Kecintaan luar biasa kepada Rasulullah SAW itu tergambar pada diri seorang perempuan – beberapa saat usai Perang Uhud. Dia baru saja kehilangan ayah, kakak laki-laki dan suaminya yang gugur sebagai syuhada. Ia bukannya meratapi mereka, tapi menanyakan nasib rasulullah SAW, ”Apa yang terjadi pada diri Rasulullah, semoga Allah memberkati dan melimpahkan kedamaian kepadanya.” ”Nabi baik-baik saja sebagaimana engkau mengharapkannya,” jawab para sahabat. Lalu kata perempuan itu lagi, “Tunjukanlah dia kepadaku hingga aku dapat memandangnya.” Kemudian para sahabat menunjukan posisi Rasulullah SAW. “Sungguh, kini semua deritaku tak ada artinya. Sebab, engkau selamat,” kata perempuan itu kepada Rasulullah SAW. ”Mereka yang mencintaiku dengan sangat mendalam adalah orang-orang yang menjemputku. Sebagian dari mereka bersedia mengorbankan keluarga dan kekayaannya untuk berjumpa denganku,” sabda Rasulullah SAW sebagaimana diceritakan oleh Abu Hurairah (HR Muslim, Bukhari, Abu Dzar).

Setelah Rasulullah SAW wafat, kaum muslimin masih senantiasa mencintainya. Suatu malam, Khalifah Umar bin Khatthab melakukan inspeksi di seantero kota Makkah. Ketika itulah, demikian cerita Zayd ibn Aslam dalam sebuah riwayat, Umar menjumpai sebuah rumah bercahaya terang. Di dalamnya seorang perempuan tua mendendangkan sebuah syair yang mengharukan sambil menabuh rebana, hingga Umar terharu lalu terduduk lemas, menangis: Rasulullah, engkaulah yang setiap malam / senantiasa bangun beribadah / dan pada akhir malam menangis / Aku tak tahu dapatkah bertemu lagi dengan kekasihku / Rasulullah telah wafat / Aku tak tahu bisakah kita bertemu lagi Betapa kecintaan sahabat Bilal kepada Rasulullah SAW, terungkap menjelang ia meninggal. Bilal melarang isterinya bersedih hati, sebab, katanya, “Justeru ini adalah kesempatan yang menyenangkan, karena besok aku akan berjumpa dengan Rasulullah SAW dan para sahabatnya.” Wafatnya Rasulullah SAW merupakan kesedihan luar biasa bagi para sahabat dan pencintanya. Dikisahkan, ada seorang perempuan yang menangis di makam Rasulullah SAW sampai ia meninggal. Demikianlah gambaran betapa luar biasa kecintaan para sahabat kepada Rasulullah SAW.

Untuk mengungkapkan rasa cinta itu, sewajarnyalah jika kaum muslimin meneladani akhlaq beliau, menerapkan sunnahnya, mengikuti kata-kata dan seluruh perbuatannya, menaati perintah dan menjauhi larangannya. Itulah cinta sejati, sebagaimana perintah Allah SWT dalam surah Ali Imran ayat 31: “Katakanlah (wahai Muhammad), jika kalian mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu. Dan Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang.”

Monday, June 23, 2008

Ghurabaa'


Muhammad s.aw telah berkata: "Islam datang dalam keadaan asing. Ia akan kembali asing. Beruntunglah orang-orang yang asing"

Marilah sama2 kita hayati nasyid penuh semangat dan motivasi ini. Yang mampu mengingatkan kita pada janji Allah! Yang menjadi tunjang kekuatan perjuangan para syuhada terdahulu!

Lalu tanyakan diri kita. Apakah kita sanggup mati demi Kalimah yang Mulia ini seperti mereka?

Ghurabaa’ wa li ghairillaahi laa nahnil jibaa
Ghurabaa’ do not bow the foreheads to anyone besides Allah

Ghurabaa' war tadhainaa haa shi’aaran lil hayaa
Ghurabaa’ have chosen this to be the motto of life

Ghurabaa’ wa li ghairillaahi laa nahnil jibaa
Ghurabaa’ do not bow the foreheads to anyone besides Allah

Ghurabaa’ war tadhainaa haa shi’aaran lil hayaa
Ghurabaa’ have chosen this to be the motto of life

Inta sal ‘anna fa inna laa nubaali bit-tughaat
If you ask about us, then we do not care about the tyrants

Nahnu jundullaahi dawman darbunaa darbul-ubaa
We are the regular soldiers of Allah, our path is a reserved path

Inta sal ‘anna fa inna laa nubaali bit-tughaa
If you ask about us, then we do not care about the tyrants

Nahnu jundullaahi dawman darbunaa darbul-ubaa
We are the regular soldiers of Allah, our path is a reserved path

Lan nubaali bil quyuud, bal sanamdhii lil khulood
We never care about the chains, rather we’ll continue forever

Lan nubaali bil quyuud, bal sanamdhii lil khulood
We never care about the chains, rather we’ll continue forever

Fal nujaahid wa nunaadhil wa nuqaatil min jadeed
So let us make Jihad, and battle, and fight from the start

Ghurabaa’ hakazhal ahraaru fii dunya-al ‘abeed
Ghurabaa’ this is how they are free in the enslaved world

Fal nujaahid wa nunaadhil wa nuqaatil min jadeed
So let us make Jihad, and battle, and fight from the start

Ghurabaa’ hakazhal ahraaru fii dunya-al ‘abeed
Ghurabaa’ this is how they are free in the enslaved world

Kam tazhaakkarnaa zamaanan yawma kunna su’adaa`
How many times when we remembered a time when we were happy

Bi kitaabillaahi natloohu sabaahan wa masaa`
In the book of Allah, we recite in the morning and the evening

Kam tazhaakkarnaa zamaanan yawma kunna su’adaa`
How many times when we remembered a time when we were happy

Bi kitaabillaahi natloohu sabaahan wa masaa`
In the book of Allah, we recite in the morning and the evening


Saturday, June 21, 2008

Kesenjangan Masyarakat Dalam Mendirikan Solat


"Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat, mereka berdiri dengan malas; mereka bermaksud riya' di hadapan manusia dan tidak menyebut Allah kecuali sedikit" (4:142)

Solat ni dah jadi masalah besar umat Islam kini. Semakin dalam menyelidiki masyarakat yang mengaku Islam, semakin tinggi undi tak percaya pada apa yang dikatakan. Dosa meninggalkan solat ni saya dah lihat di merata-rata tempat.

Dua bulan lepas, saya menghadiri latihan jalan lasak Jabatan Pertahanan Awam 3 (jpa3) yang bermula dari kampung pasir, sampai ke air terjun tepi jalan ulu yam. Perjalanan mengambil masa 6 jam 30 minit dengan beberapa 'checkpoint' bermula jam 1 pagi. Sampai ke destinasi dalam 7.30 pagi.. Saya berada di dalam kumpulan yang terakhir dilepaskn. Bila sampai , saya tengok kawan2 yang dah tiba sedang tidur atas jalan.

Saya tanya seorang pegawai yang berkawal,

"Cik, nak solat subuh di mana?"
"Erm.. cuba kau tengok kat bawah tu ada sungai"

Saya pun pelik.. cuba tengok? Diorang ni masih tak solat lagi kah? Kemudian saya pun turun ke bawah dan ambil wudhu'. Belum pun selesai, turun seorang pegawai panggil saya naik, dah nak bertolak balik. Saya pun akur, nanti kena tinggal pula. Tiba di HQ jam 8.30 pagi. Saya terus ke surau, untuk solat subuh dan waktu tu saya berseorangan ke surau walaupun jumlah peserta tak kurang 60 orang. Bila ditanya kenapa tak solat, tak sempat dan dah habis waktu katanya.

Takkan 1/60 saja yang menjaga solat? Kalau dihitung waktu yang diperlukan untuk solat lima waktu, rasanya tak sampai 10%. Apakah masalahnya sehingga umat ini dilanda masalah sebegini? Perkara meninggalkan solat ni dah diketauhi umum, apatah lagi melalaikan solat?

Sudah tentu ini terkait dengan masalah aqidah. Keyakinan terhadap agama yang dianuti semakin kurang dan lenyap. Solat merupakan tiang agama. Tanpa tiang, maka robohlah sesuatu binaan. Kesan dari meninggalkan solat ini jelas dilihat pada individu. Bagi saya, orang yang meninggalkan solat, sudah menganggap bahawa agama adalah tidak penting dalam hidupnya.

Sebenarnya, jika seseorang "hidup" di atas hakikat solat dan mihrabnya, akan merasa manisnya iman dan lazatnya taat, sehingga tidak menganggap solat itu berat dan tidak malas mengerjakannya. Bahkan, ia rindu ingin segera mengerjakan solat dan menunggu datangnya waktu dengan suka cita, agar ia merasakan ketenangan dengannya dan bahagia dapat berdiri di hadapat Allah.

Dengan berat hati, saya harus berkata kepada orang-orang yang malas solat, menganggap solat itu tidak penting, dan berat mengerjakannya, bahawa perilaku seperti itu adalah mirip sifat munafik. Oleh sebab itu, kita harus menjauhinya dan menghilangkannya jika memang ada dalam diri kita.

"Sesungguhnya orang - orang munafik itu ditempatkan pada tingkat neraka yang paling bawah dan kamu sekali- kali tidak akan mendapat seorangpun penolong bagi mereka" (4:145)

Wallahu'alam

Wednesday, June 18, 2008

Warna Warni Kehidupan

Mula-mula memang seronok kerja bertimbun-timbun.Tapi lama kelamaan, mula terasa bosan dan letih. Dah hampir 8 bulan 'industrial training'di Pernec Corporation Berhad, dah bermacam-macam yang dilalui. Mula-mula masuk, bosan asyik takda kerja.. bila dah lama, banyak pulak kerjanya, terasa bosan jugak. Jurusan elektrikal dn electronik, tapi buat web development. Ada juga yang releven seperti fleet management system, rectifier, transmission, communication tower. Tapi kerja2 macam tu dah cukup untuk menjadikan aku orang penting kat Pernec. Sehari tak datang, 2 department call tanya kat mana.

Checklist semasa:
1. Halaqoh mingguan
2. halaqoh sekolah
3. Weekly Report training, dah due date.
4. Final report training
5. Web development (x tahu la bile boleh siap)
6. video rendering and editing.
7. halaqah-online.com
8. ........

Mudah mudahan segalanya dipermudahkan Allah