Google

Monday, December 29, 2008

Wahai .. Para Raja, Presiden, dan Pemimpin Arab!

Di mana hati nuramimu?

Ketika engkau melihat umat Islam di Gaza sudah bergelentangan, bertahun-tahun menderita, akibat kerakusan Israel. Engkau tetap menutup pintu perbatasanmu. Tak mau berbelas kasihan terhadap saudaramu. Meskipun, sudah banyak diantara mereka yang mati, akibat sakit dan kelaparan. Bahkan, ketika mereka kelaparan dan mencuba masuk ke wilayah perbatasanmu, engkau usir. Engkau menjadi seakan orang-orang yang sudah kehilangan hati nurani dan kecintaan terhadap saudaramu, yang malang muslim Palestin. Engkau lebih mementingkan memelihara hubungan dengan Israel, Amerika, danEropah, dibandingkan dengan menyelamatkan saudaramu sesama muslim.

Engkau menyaksikan dengan mata telanjang, ketika pesawat F.16 dan Apache, Israel, menyerang kota-kota Gaza. Engkau melihat bangunan-bangunan luluh-lantak, mayat-mayat berserakan, bagaikan sampah dan ada di mana-mana, dan darah mengalir dari setiap tubuh mayat, serta menjadi pemandangan di sudut-sudut kota Gaza, masihkah hati nuranimu tak juga tersentuh? Engkau melihat ratusan muslim Palestina, yang mengerang kesakitan dengan luka-luka di tubuh mereka, dan masihkah engkau berdiam diri? Mengapa wahai Presiden Hosni Mubarak, engkau bertemu dan berjabat tangan Menteri Luar Negeri Israel, Tzipi Livni, sehari sebelum rejim Zionis-Israel melumatkan kota Gaza?

Engkau menyaksikan setiap hari peristiwa kematian yang dialami muslim Palestin. Engkau setiap hari melihat muslim Palestin yang tak berdaya, dan dihancurkan kehidupan mereka oleh rejim Zionis-Israel. Tapi, engkau malah berkomplot dengan kaum laknat itu, ikut menghancurkan muslim Palestin. Engkau melihat bangunan-bangunan, rumah-rumah, sarana-sarana hidup, dan tanah ladang, kebun, ikut dihancurkan para penjajah, yang biadab, tapi engakau malah tertawa-tawa, sambil menerima utusan pemerintahan rejim Zionis-israel, dan berunding. Engkau melihat kekejaman-kekejaman yang diluar batas perikemanusiaan, dan yang tak pernah dapat tertanggungkan oleh manusia, dan dialami oleh muslim Palestina, yang dilakukan rejim Zionis-Israel, tapi engkau malah membuat perjanjian rahsia dengan musuh kemanusia itu? Di mana hati nuranimu?

Wahai Para Raja , Presiden, Pemimpin Arab!

Kematian akan datang. Kematian akan dialami oleh muslim Palestin, di Gaza. Mereka semuanya akan menyongsong kematian,yang paling terhormat. Mereka akan menghadapi mesin perang rejim Zionis-Israel dengan gagah. Mereka tak akan mundur. Mereka akan menghadapi dengan teguh. Mesin perang yang sudah meluluh-lantakkan kota Gaza itu, pasti akan mereka hadapi. Apa ertinya kehidupan dan kemuliaan, bila harus dibawah kekuasaan dan penjajahan Israel? Mereka lebih mencintai kematian, dan tak akan berdamai dengan para musuh Allah Azza Wa Jalla, iaitu Zionis-Israel.

Apa ertinya kekuasaan dan kekuatan yang engkau miliki? Bila kekuasaan dan kekuatan itu tak dapat menghapus kemungkaran dan kezaliman? Apa ertinya kekuasaan dan kekuatan yang engkau miliki bila tak mampu menghapus kejahatan yang dilakukan oleh rejim Zionis-Israel. Lebih mulia, mereka yang sudah mati – mati syahid melawan penjajah, dibandingkan dengan kekuasaan dan kekuatan yang engkau miliki, tapi tak mampu membebaskan saudaramu muslim di Gaza.

Selamat berjuang saudaraku muslim di Gaza, jangan mengharapkan pertolongan dari manapun, kecuali dari Allah Rabul Aziz. Semoga engkau mendapatkan kemuliaan dari Allah Azza Wa Jalla.

http://eramuslim.com/

Thursday, December 11, 2008

Da'ie Juga Manusia

Ramai para da'ie akan melalui fasa seperti ini. Merasa bimbang diri akan terjatuh ke lembah kemunafikan. Setelah penat lelah berdakwah, timbul penyesalan pada diri, "Aku tak layak berdakwah!". Alasan seperti ini sudah tentu banyak yang kita dengan dari yang futur. Justru dengan mereka menghindar dari dakwah, keadaan diri mereka lebih parah. Jauh lebih tidak layak bergelar muslim sejati.

Hanzalah bin Ar-Rabi' seorang sabahat Rasulullah yang tidak pernah surut semangat jihadnya juga tidak terlepas perasaan seperti itu. Sebagai manusia biasa, Hanzalah bisa merasakan lelah dalam beramal dan terbuai-buai dengan "urusan-urusan" dunia.

Disebut dalam satu riwayat, dia berkata, "Suatu saat, Abu Bakar ra menemui saya dan menyapa, "Apa khabar, wahai Hanzalah? Saya jawab, "Hanzalah telah menjadi munafik." Dia berkata, "Subhanallah! Apa yang kamu katakan?" Saya jawab, "Bagaimana saya tidak munafik. Jika saya hadir di samping Rasulullah beliau mengingatkan saya dengan syurga dan neraka, saya melihat seolah-olah syurga di depan mata. Tapi, bila pulang ke rumah bertemu anak isteri semuanya dilupakan dan saya tenggelam dalam urusan dunia." Abu Bakar berkata, "Demi Allah, saya juga seperti itu, wahai Hanzalah." Maka kami menghadap Rasulullah.

Saya berkata, "Wahai Rasulullah, Hanzalah telah menjadi munafik." Beliau bertanya, "Ada apa wahai Hanzalah?" Saya berkata, "Wahai Rasulullah, apabila kami hadir di majlis-majlismu dan engkau mengingatkan kami dengan syurga dan neraka, kami melihat seolah-olah syurga berada di depan mata. Tapi kalau sudah pulah ke rumah bertemu dengan anak dan isteri, semuanya dilupakan dan kami tenggelam dalam keasyikan urusan dunia."

Rasulullah saw pun berkata,
"Demi Allah yang diriku berada dalam genggamanNya, seandainya kami selalu dalam kondisi seperti ketika kami di sisiku dan selalu ingat, (akan akhirat dan ketaatan kepada Allah), tenti para malaikat akan selalu menyertai kami di tempat tidurmu maupun di jalan-jalan. Tetapi sewaktu-waktu, wahai Hanzalah, sewaktu-waktu." Rasulullah saw mengulangi kalimah "sewaktu-waktu" sebanyak tiga kali. (hr Muslim)

Maksud Rasulullah, ada saatnya kita berada dalam ingatan akan akhirat dan ketaatan kepada Allah, tetapi pada waktu lain juga bisa tenggelam dalam kesibukan dunia, harta dan keluarga, sehingga kehidupan akhirat seolah-olah dilupakan. Itu adalah hal yang manusiawi. Tetapi tidak sebagai alasan untuk menjadi talam dua muka. Ketika di kampus rajin solat berjamaah tetapi di rumah asyik di depan tv lalu dengan senang hati berkata aku ini manusia, apa boleh buat.

"Setiap amal ada masa semangatnya, dan setiap semangat ada masa lelahnya. Barangsiapa yang lelahnya dalam sunnahku (tidak bermaksiat), maka dia memperoleh petunjuk. Dan barangsiapa yang lelahnya di luar itu maka dia telah tersesar." (hr al-Bazzar dari Ibnu Abbas)

Wednesday, December 10, 2008

Menjadi Soleh dengan Berdakwah

Menjadi soleh adalah satu kemestian bagi setiap Muslim kerana ianya isi al-Quran itu sendiri. Jika tidak mengamalkan al-Quran, apalagi nilai seorang muslim? Lebih-lebih lagi yang mengaku da'ie. Jika da'ienya tidak soleh, bagaimana bisa dibayangkan satu masyarakat akan menjadi baik? Mustahil. Faqidu syai'in la yu'thi kan? Tetapi, untuk menjadi soleh bukan hal yang mudah. Termasuk bagi yang dikenal sebagai da'ie.

Saya bertemu seorang ikhwah yang dah lama tak muncul. Saya tanyakan, "Mengapa?" Jawabnya, "Saya tak sangguh menjadi da'ie. Bagaimana saya mengajak masyarakat, sementara saya sendiri jauh dari nilai yang saya serukan?" Ingatkah akan firman Allah, "Wahai orang-orang yang beriman, mengapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amar besar kebencian di sisi Allah bahawa kamu mengatakan yang tidak kamu kerjakan," (61:2-3)

Apalagi jika kita renungkan firman Allah swt, "Dan diantara manusia itu ada yang mengatakan, 'Kami beriman kepada Allah dan hari Akhirat,' padahal sesungguhnya mereka itu bukanlah orang-orang yang beriman." (2:8)

Ayat ini berbicara tentang orang munafik yang suka mengatakan kebaikan tetapi hati mereka mengingkarinya. Dalam hal ini ibnu Kathir menjelaskan, kemunafikan ada dua jenis: pertama, nifaq i'tiqadi (munafiq sejati). Para ulama' sepakat, mereka ini kafir dan kekal di dalam neraka. Kedua, nifaq 'amali. Ini termasuk dosa-dosa yang sangat besar. Juga masuk neraka, tetapi tidak kekal kerana masih muslim.

Itu bererti mereka yang suka mengatakan, terlebih mengajak pada kebaikan tetapi sendiri tidak melaksanakannya, termasuk dalam ketegori munafik yang kedua. Na'uzubillah. Tentu, tidak ada seorang pun yang punya hati ingin jadi munafik. Maka, "Lebih baik tidak berdakwah daripada jatuh ke dalam kemunafikan," ulah yang biasa dijadikan alasan futur dalam dakwah.

Saya memahami 100% perasaan seperti itu. Jujur saja, fikiran seperti ini pernah hinggap di benak saya. Alhamdulillah, Allah melindungi saya dari terus dihantui. Saya memahaminya sebagai penyakit mental yang dimasukkan syaitan dalam jiwa para da'ie yang ikhlas berdakwah di jalan Allah. Syaitan memang tidak ingin dakwah dan tarbiyah berkembang dan berkibar di muka bumi. Maka, dicampakkanlah ke dalam hati para da'ie sikap ragu-ragu.

Human Basic Need

Dakwah adalah keperluan manusia secara universal. Ertinya, setiap manusia, di mana pun ia berada, tidak akan pernah bisa hidup dengan baik tanpa dakwah. Dakwahlah yang akan menuntun manusia pada kebaikan. Maka, jangan pernah terfikir untuk menjauh dari dakwah dengan alasan apa pun. Semakin kita merasa berat meniti jalan Islam, semakin besar pula keperluan kita terhadap dakwah.

Rasa Tanggungjawab

Satu kenyataan yang harus kita sedar, jika dengan mengajar kita akan bisa optimum dalam belajar, maka dengan dakwah kita akan lebih optimum menjadi baik. Mengapa? Ini menyangkut rasa tanggungjawab sosial kita. Ertinya, jika kita mengajak orang lain kepada kebaikan, pada masa yang sama juga kita mengajak diri sendiri. Fitrah kemanusiaan akan menggerakkan kaki kita. Ianya 'common sense' untuk merasa malu jika kita mengatakan apa yang tidak kita kerjakan.

Jangan risau, rasa tanggungjawab akan tumbuh dan berkembang seiring proses kedewasaan kita. Dalam hal ini, jika kita aktif berdakwah maka rasa tanggungjawab itu akan tumbuh dengan sangat kuat dalam diri kita untuk menyesuaikan antara apa yang akan kita lakukan dengan aya yang kita katakan.

Lingkungan Sosial Dakwah

Dengan berdakwah, seorang da'ie akan selalu berada dalam lingkungan sosial dakwah. Sebahagian ahli sosiologi berpendapat, lingkungan sosial memberi pengaruh lebih dominan bagi seseorang berbanding fakto-faktor lain.

Ketika berdakwah, sebenarnya kita sedang membina keadaan yang kondusif untuk kita menjadi baik. Di sana kita akan mendapat tempat istimewa di mata masyarakat. Mereka memandang kita sebagai teladan. Mahu tidak mahu, dipaksa oleh keadaan untuk menjadi contoh. Kerana menjadi contoh, kita akan bersikap sangat hati-hati. Jangankan berbuat maksiat, bahkan ketawa pun akan berhati-hati.

Dengan demikian, seorang da'ie berpeluang menjadi da'ie tiga kali ganda daripada yang bukan da'ie. Itu kerana ketika mengingatkan orang lain untuk istiqamah dalam kebaikan, sesungguhnya, pada saat yang sama mengingatkan diri sendiri. Kan kalau jari telunjuk dituding ke depan, pada masa sama tiga jari lain menunjuk diri kita sendiri? Lebih kurang lah gamabarannya.

Maka, adalah sangat keliru jika kerana takut dimurkai Allah kerana mengatakan apa yang tidak kita kerjakan, lalu kita tinggalkan dakwah. Justru dengan rasa takut dimurkai Allah kalau mengatakan apa yang tidak kita lakukan itu memacu kita lebih cepat lagi dalam memproses diri untuk menjadi lebih baik dan terus semakin baik.

Itu bererti kita harus lebih kencang dalam dakwah dan tarbiah!!!

Sunday, December 07, 2008

Kegagalan Tarbiyyah

Kegagalan tarbiyah bisa terjadi ketika proses tarbiyah sedang berjalan, tetapi juga bisa terjadi di awal proses. Persimpangan persepsi tentang tarbiyah memberi kesan besar dalam membelokkan substansi tarbiyah sejak awal. Kita dapat menyimpulkan lima kesalahan persepsi tentang tarbiyah.

Pertama, tarbiyah dipandang semata-mata sebagai penyampaian bahan. Oleh sebab itu, yang dimaksudkan dengan sudah atau belum 'menyampaikan bahan' adalah sudah atau belum memperdengarkan atau menyajikan bahan tersebut kepada mad'u. Di sisi yang lain, mutarobbi merasa sudah mendapat bahan jika sudah pernah mendengar pengisian. Persepsi ini menyederhanakan tujuan tarbiyah sebagai pengawal dalam pembentukan fikrah dan harakah.

Kedua, persepsi bahawa murobbi adalah segalanya bagi mad'u adalah hal yang dianggap 'aib' bagi penganut 'mazhab' ini apabila mad'u memiliki kompetensi yang lebih baik daripada murobbi dalam beberapa bidang. Persepsi ini menyebabkan alternatif yang terjadi adalah pilihan buruk di antara hal-hal buruk berikut:

  1. Mad'u menjadi kerdil bagai katak di bawah tempurung.
  2. Mad'u memberontak dan sentiasa terjebak dalam ketidakpuasan.
  3. Mad'u berkembang sejajar dengan tarbiyahnya, tetapi memiliki batas yang jelas, iaitu setinggi kemampuan murobbinya dan mustahil melebihinya.
Ketiga, tarbiyah dianggap sebagai proses doktrin dan dominasi. Murobbi menerapkan persepsi keberhasilan tarbiyah adalah ketika mad'u memiliki 'kesetiaan', tsiqah dan menjadi pendukung murobbi.

Keempat, sistem dan metode tarbiyah dipersepsikan sebagai hal yang baku. Contohnya berdasarkan pendekatan waktu, berurutan, dan tidak bisa di bolak-balik. Pendekatan ini menyebabkan seseorang yang memiliki potensi yang lebih besar tidak dapat mengambil yang lebih besar. Metogologi one wat traffic, white board, dan teknikal lain dianggap sesuatu yang harus ada. Sedangkan seminar, diskusi, tayangan, dan teknologi penyampaian lainnya tidak digunakan kerana dianggap mengurangi 'nilai' tarbiyah. Akibat lainnya adalah bahan disampaikan tidak berdasarkan keperluan mad'u.

Kesalahan persepsi yang kelima adalah kecenderungan untuk melakukan 'cloning' murobbi atau fotokopi murobbi. Kecenderungan hobi, syu'ur, selera, kegemaran dan beberapa hal yang sebenarnya merupakan privacy murobbi tiba-tiba menjadi muwashofat dan ukuran keberhasilan tarbiyah

Saturday, December 06, 2008

Da'ie dan Movie?

Nak dijadikan cerita, ada seorang sahabat datang mengadu dimarahi teruk ayah gara-gara kerja men'delete' movie dan series ayahnya secara tidak sengaja. Banyak gigabyte juga yang hilang. 300GB komputer, penuh dengan movie, series, anime dan lain-lain. Belum ditambah lagi yang telah di'burn' ke dalam DVD yang bertimbun.

"Bodoh!! aku download berminggu-minggu!! Kurang ajar punya budak!! kata-kata pedas dari ayahnya yang keras kepala.

Perkara ini kelihatan wajar jika ayahnya hanya orang biasa yang tidak pernah ditarbiyyah ataupun yang telah islam sejak lahir tapi tidak komitted mengamalkan ajaran Islam sepenuhnya. Tetapi jangan terkejut jika saya katakan ayahnya merupakan mantan setiausaha agung sebuah jamaah islam.

Adakah kita merasa pelik? atau sikap kita biasa-biasa saja. Saya tertarik dengan status mantan setiausaha agung sebuah jamaah islam yang dimiliki ayahnya. Dah nama pun jemaah islam, mestilah mengaku dirinya berdakwah. Buat itu, buat ini yang saya percaya semuanya hanya lebih kepada kerja-kerja pengurusan. Sikap-sikap seperti ini kalau dianalisa pasti kita akan lihat satu kesamaan antara pelaku-pelakunya. Bagi saya, ayahnya itu tak ubah seperti Raja Namrud yang membakar Nabi Ibrahim kerana menghancurkan berhala-berhala milik Raja Namrud.

Fokus saya di sini adalah movie yang jelas-jelas haram, yang mempamerkan wanita-wanita yang tidak menutup aurat (ada ke movie barat yang wanita tutup aurat? yang tak tutup pun pakaian tidak sopan) lebih-lebih lagi yang menontonnya adalah seorang yang mengaku da'ie? Saya percaya ayahnya akan menonton secara istiqamah kerana size 300gb itu bukan sekejap untuk khatam.

Mari kita kaji perilaku ayah dia ini. Siapa yang pernah mengalami, tahu-tahu sendiri lah ya. Ayahnya dah tentu bekerja. Kebiasaannya jam 8 pagi hingga 5 petang. Ayahnya juga seorang manager. Selalu balik malam. Pada pendapat saya, dia tidak akan menonton berhala-berhala yang didownload di pejabat. Jadi, masanya di rumah pasti dia akan gunakan sebaiknya.

Bermula dari sampai di rumah, terus on computer, menonton berhala kesayangan sehingga larut malam sampaikan terpaksa menunda solat isya' ke saat-saat akhir dek kerana tertidur sewaktu menonton berhalanya. Secara tidak langsung, masanya ditiadakan untuk anak-anak. Dia tidak kisah akan anak-anak, lalu anak-anak tidak akan kisah akan bapanya.

Kenapa saya sebut berhala? Kerana berhala ini sesuatu yang kita sembah, yang amat kita cintai dan sedia mengorbankan segalanya kerana berhala ini. Jadi tidak salah jika saya sebut berhala, kerana dia sanggup mengorbankan pandangan orang lain terhadap dia, mengorbankan anak-anak, mengorbankan masa dan sebagainya.

Kalau yang tadi, bapaknya. Sekarang kita cermin diri sendiri, lihat di sekitar kita. Kita bisa lihat bagaimana menonton movie dan series ini seperti menjadi satu kebiasaan bagi kita. Dari yang aktif berdakwah sehingga la yang duduk termenung goyang kaki. Yang dah sibuk bertambah tiada masa, yang menang banyak senggang masa terus takda masa.

Saya tahu diluar sana masih ramai lagi para da'ie yang mengambil enteng akan hal ini. Ada yang nonton Naruto, Bleach, dan lain lagi. Sehingga tahu episod berikut bila bisa di download. Bisa cerita dari mula hingga episod semasa. Untuk berehat? Di manakah tahajud yang menjadi rehat dari dunia yang melelahkan? Apakah rehat seorang da'ie itu dengan memuskan hawa nafsu?

"Akhi, anta dah tengok Quantum of Solace?"

Wah, sekali imbas lunak dan sopan sungguh pertanyaannya. Tapi ramai juga da'ie-da'ie moden ini yang menjawab "masih belum". Apa ini?

Saya ingin berkongsi beberapa sebab yang menjadikan mereka ini tengok movie keluaran terbaru. "Nak catch up supaya tidak ketinggalan bersama mad'u". Waduh-waduh, dahlah murobbinya pun tengok movie berlumba pulak dengan mutarobbi. Nanti bolehlah ikhwah wujudkan satu pawagam untuk ikhwah akhwat (asing ye) sebab semua dah ditarbiyyah tengok movie. Apakah tidak cukup dengan hanya membaca preview atau story plot saja? atau kita lebih rela menghabiskan masa dan menggadaikan keimanan kita dengan melihat aurat wanita?

"Banyak pengajaran yang boleh diambil". Apa lagi yang kalian perlu selain Al-Quran dan Hadith? Sirah para sahabat? Bahan bacaan yang bermanfaat? Dokumentari yang ilmiah? Kenapa mesti movie tayangan perdana? atau movie top ten? Jauh di sudut hati "Rasa best bila tengok movie, enjoy, releks," rasa-rasa hawa nafsu.

Wahai para da'ie, ketahuilah akan bahaya ini dosa kecil ini. Ia seharusnya menjadi takutan umat yang mengaku da'ie ini melainkan jika dia hanya mengaku da'ie tapi tidak bekerja sebagai da'ie. Atau lebih dikenali sebagai da'ie olok-olok. Saya tidak tahu jika masih ada di antara kita yang terus beralasan untuk membenarkan perkara lagho dan bisa menambah dosa ini.

Bermula dengan melihat movie secara kecil-kecilan, bintik-bintik hitam akan mula menutupi hati sehingga membekas seperti marker permanent lalu cahaya ilahi akan sukar masuk ke dalamnya dan hasutan iblis mudah mendekati dan menempel.

Lalu timbul pula dosa-dosa lain yang lebih berat. Tinggal solat, mudah marah (orang yang pentingkan diri akan mudah marah, dan tanda orang yang pentingkan diri adalah orang yang suka mengikut hawa nafsu) dan seterusnya.

Wahai da'ie diluar sana!
Kalian kata kalian berdakwah. Tapi kalau perkara seperti ini tidak dapat kalian pelihara, lupakan saja medanmu kerana hati-hati kalian telah dikotori.

*Penonton movie yang saya gambarkan adalah yang menonton kebanyakan movie. Semua nak tengok. Saya juga menonton movie, Children of Heaven, Paradise Now dll yang boleh dikira dengan jari. Yang peliknya yang berjaya penuhkan hard-disc dengan movie dan series. Takkan simpan saja? mestilah tengok?