Google

Tuesday, June 24, 2008

Cinta Sahabat Kepada Rasul

“Tidak sempurna iman seorang di antara kamu sebelum ia lebih mencintai aku daripada mencintai ibu-bapaknya, anaknya, dan semua manusia” (HR Bukhari).

Semalam, sewaktu menghadiri halaqah, terlalu banyak cerita cinta yang dinukilkan sehingga bisa membuatku menangis. Mengenangkan kisah-kisah perngorbanan dan cinta para sahabat terhadap Rasulnya. Cinta yang tiada berbelah bagi, tiada sangsi. Cinta yang membuahkan kejayaan dan kekuatan.

Mereka meletakkan cinta Allah dan Rasulnya melebihi segalanya. Mereka telah membuktikan bahawa cinta itu lahir dari keimanannya yang sebenar benarnya. Di atas dasar iman, mereka sangat setia mendampingi beliau, baik dalam susah maupun senang, dalam damai maupun perang.

Kecintaan mereka itu bukan hanya di lidah, melainkan terwujud dengan perbuatan nyata. Betapa cinta sahabat kepada Rasulullah SAW, tergambar ketika Rasulullah SAW bersama Abubakar ash-Shiddiq beristirahat di Gua Tsur dalam perjalanan hijrah dari Makkah ke Madinah secara sembunyi-sembunyi. Kala itu Rasuklullah SAW tertidur berbantalkan paha Abubakar. Tiba-tiba Abubakar merasa kesakitan karena kakinya digigit kalajengking. Tapi, dia berusaha sekiat tenaga menahan sakit, hingga mencucurkan airmata, jangan sampai pahanya bergerak – khawatir Rasulullah SAW terbangun.

Salah seorang sahabat, Zaid bin Datsima, tak gentar menghadapi ancaman kaum kafir karena begitu luar biasa kecintaannya kepada Rasulullah SAW. Ketika itu, ia sempat disandera oleh kaum musyrik Makkah dan akan dibunuh. ”Hari ini, tidakkah engkau berharap Muhammad akan bersama dengan kita sehingga kami dapat memotong kepalanya, dan engkau dapat kembali kepada keluargamu?” kata Abu Sufyan kepadanya. “Demi Allah, aku tidak berharap sekarang ini Muhammad berada di sini, di mana satu duri pun dapat menyakitinya – jika hal itu menjadi syarat agar aku dapat kembali ke keluargaku,” jawab Zaid tegas. “Wah, aku belum pernah melihat seorang pun yang begitu sayang kepada orang lain seperti para sahabat Muhammad menyayangi Muhammad,” sahut Abu Sofyan. Kisah kecintaan sahabat kepada Rasulullah SAW banyak diungkapkan dalam sejarah.

Salah satunya ditunjukan oleh Umar bin Khatthab. ”Ya, Rasulullah. Aku mencintaimu lebih dari segalanya, kecuali jiwaku,” kata Umar. Mendengar itu, Rasulullah SAW menjawab, ”Tak seorang pun di antara kalian beriman, sampai aku lebih mereka cintai daripada jiwamu.” Hari Kiamat ”Demi Dzat yang menurunkan kitab suci Al-Quran kepadamu, aku mencintaimu melebihi kecintaanku kepada jiwaku sendiri,” sahut Umar spontan. Maka Rasulullah SAW pun menukas, ”Wahai Umar, kini kamu telah mendapatkan iman itu” (HR Bukhari).

Penhormatan dan pemuliaan terhadap Rasulullah SAW memang merupakan perintah Allah SWT. Firman Allah, “Sesungguhnya Kami mengutus engkau sebagai saksi, pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, supaya kamu sekalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, menguatkan-Nya, membesarkan-Nya, dan bertasbih kepada-Nya di waktu pagi dan petang (QS Al Fath : 8-9).

Sebuah ayat menekankan pentingnya kecintaan terhadap Allah SWT dan Rasulullah SAW, ”Katakanlah (wahai Muhammad), jika ayah-ayahmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, isteri-isterimu, keluargamu, harta kekayaanmu, perdagangan yang kamu kekhawatirkan kerugiannya, dan rumah yang kamu senangi, lebih kalian cintai dari pada Allah dan Rasul-Nya, dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak akan memberi hidayah kepada orang-orang fasik” (QS At-Taubah: 24).

Kecintaan kaum muslimin kepada Rasulullah SAW juga merupakan faktor penting bagi keselamatannya di hari kiamat kelak. Hal itu terungkap ketika suatu hari seorang sahabat bertanya kepada rasulullah SAW, ”Kapankah datangnya hari kiamat?” Maka jawab Rasulullah SAW, ”Apa yang sudah engkau persiapkan untuk menghadapinya?” Jawab sahabat itu, “Saya tidak mempersiapkannya dengan banyak shalat, puasa, dan sedekah, tapi dengan mencintaimu dalam hati.” Lalu, sabda Rasulullah SAW, ”Insya Allah, engkau akan bersama orang yang engkau cintai itu.” Menurut Ibnu Mas’ud, Abu Musa al-Asy’ari, Shafwan, dan Abu Dzar, Rasulullah SAW telah bersabda mengenai seseorang yang dengan tulus mencintainya, ”Seseorang akan berada di Yaumil Mahsyar bersama orang yang dicintainya.” Mendengar itu, para sahabat sangat berbahagia karena mereka sangat mencintai beliau. Suatu hari seorang sahabat hadir dalam majelis Rasulullah SAW, lalu berkata, “Wahai Rasulullah, aku saya mencintaimu lebih dari mencintai nyawa, harta dan keluargaku. Jika berada di rumah, aku selalu memikirkanmu. Aku selalu tak bersabar untuk dapat berjumpa denganmu. Bagaimana jadinya jika aku tidak menjumpaimu lagi, karena engkau pasti akan wafat, demikian juga aku. Kemudian engkau akan mencapai derajat Anbiya, sedangkan aku tidak?” Mendengar itu Rasulullah terdiam. Tak lama kemudian datanglah Malaikat Jibril menyampaikan wahyu, ”Dan barang siapa menaati Allah dan Rasul-Nya, mereka akan bersama orang yang diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi, shiddiqin, syuhada, dan shalihin. Mereka adalah sebaik-baik sahabat, dan itulah karunia Allah Yang Maha Mengetahui” (QS An-Nisa : 69-70).

Kecintaan para sahabat kepada Rasulullah SAW inilah pula yang menggerakkan mereka menyebarkan berdakwah ke seluruh penjuru dunia. Terduduk Lemas Kecintaan luar biasa kepada Rasulullah SAW itu tergambar pada diri seorang perempuan – beberapa saat usai Perang Uhud. Dia baru saja kehilangan ayah, kakak laki-laki dan suaminya yang gugur sebagai syuhada. Ia bukannya meratapi mereka, tapi menanyakan nasib rasulullah SAW, ”Apa yang terjadi pada diri Rasulullah, semoga Allah memberkati dan melimpahkan kedamaian kepadanya.” ”Nabi baik-baik saja sebagaimana engkau mengharapkannya,” jawab para sahabat. Lalu kata perempuan itu lagi, “Tunjukanlah dia kepadaku hingga aku dapat memandangnya.” Kemudian para sahabat menunjukan posisi Rasulullah SAW. “Sungguh, kini semua deritaku tak ada artinya. Sebab, engkau selamat,” kata perempuan itu kepada Rasulullah SAW. ”Mereka yang mencintaiku dengan sangat mendalam adalah orang-orang yang menjemputku. Sebagian dari mereka bersedia mengorbankan keluarga dan kekayaannya untuk berjumpa denganku,” sabda Rasulullah SAW sebagaimana diceritakan oleh Abu Hurairah (HR Muslim, Bukhari, Abu Dzar).

Setelah Rasulullah SAW wafat, kaum muslimin masih senantiasa mencintainya. Suatu malam, Khalifah Umar bin Khatthab melakukan inspeksi di seantero kota Makkah. Ketika itulah, demikian cerita Zayd ibn Aslam dalam sebuah riwayat, Umar menjumpai sebuah rumah bercahaya terang. Di dalamnya seorang perempuan tua mendendangkan sebuah syair yang mengharukan sambil menabuh rebana, hingga Umar terharu lalu terduduk lemas, menangis: Rasulullah, engkaulah yang setiap malam / senantiasa bangun beribadah / dan pada akhir malam menangis / Aku tak tahu dapatkah bertemu lagi dengan kekasihku / Rasulullah telah wafat / Aku tak tahu bisakah kita bertemu lagi Betapa kecintaan sahabat Bilal kepada Rasulullah SAW, terungkap menjelang ia meninggal. Bilal melarang isterinya bersedih hati, sebab, katanya, “Justeru ini adalah kesempatan yang menyenangkan, karena besok aku akan berjumpa dengan Rasulullah SAW dan para sahabatnya.” Wafatnya Rasulullah SAW merupakan kesedihan luar biasa bagi para sahabat dan pencintanya. Dikisahkan, ada seorang perempuan yang menangis di makam Rasulullah SAW sampai ia meninggal. Demikianlah gambaran betapa luar biasa kecintaan para sahabat kepada Rasulullah SAW.

Untuk mengungkapkan rasa cinta itu, sewajarnyalah jika kaum muslimin meneladani akhlaq beliau, menerapkan sunnahnya, mengikuti kata-kata dan seluruh perbuatannya, menaati perintah dan menjauhi larangannya. Itulah cinta sejati, sebagaimana perintah Allah SWT dalam surah Ali Imran ayat 31: “Katakanlah (wahai Muhammad), jika kalian mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu. Dan Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang.”

Monday, June 23, 2008

Ghurabaa'


Muhammad s.aw telah berkata: "Islam datang dalam keadaan asing. Ia akan kembali asing. Beruntunglah orang-orang yang asing"

Marilah sama2 kita hayati nasyid penuh semangat dan motivasi ini. Yang mampu mengingatkan kita pada janji Allah! Yang menjadi tunjang kekuatan perjuangan para syuhada terdahulu!

Lalu tanyakan diri kita. Apakah kita sanggup mati demi Kalimah yang Mulia ini seperti mereka?

Ghurabaa’ wa li ghairillaahi laa nahnil jibaa
Ghurabaa’ do not bow the foreheads to anyone besides Allah

Ghurabaa' war tadhainaa haa shi’aaran lil hayaa
Ghurabaa’ have chosen this to be the motto of life

Ghurabaa’ wa li ghairillaahi laa nahnil jibaa
Ghurabaa’ do not bow the foreheads to anyone besides Allah

Ghurabaa’ war tadhainaa haa shi’aaran lil hayaa
Ghurabaa’ have chosen this to be the motto of life

Inta sal ‘anna fa inna laa nubaali bit-tughaat
If you ask about us, then we do not care about the tyrants

Nahnu jundullaahi dawman darbunaa darbul-ubaa
We are the regular soldiers of Allah, our path is a reserved path

Inta sal ‘anna fa inna laa nubaali bit-tughaa
If you ask about us, then we do not care about the tyrants

Nahnu jundullaahi dawman darbunaa darbul-ubaa
We are the regular soldiers of Allah, our path is a reserved path

Lan nubaali bil quyuud, bal sanamdhii lil khulood
We never care about the chains, rather we’ll continue forever

Lan nubaali bil quyuud, bal sanamdhii lil khulood
We never care about the chains, rather we’ll continue forever

Fal nujaahid wa nunaadhil wa nuqaatil min jadeed
So let us make Jihad, and battle, and fight from the start

Ghurabaa’ hakazhal ahraaru fii dunya-al ‘abeed
Ghurabaa’ this is how they are free in the enslaved world

Fal nujaahid wa nunaadhil wa nuqaatil min jadeed
So let us make Jihad, and battle, and fight from the start

Ghurabaa’ hakazhal ahraaru fii dunya-al ‘abeed
Ghurabaa’ this is how they are free in the enslaved world

Kam tazhaakkarnaa zamaanan yawma kunna su’adaa`
How many times when we remembered a time when we were happy

Bi kitaabillaahi natloohu sabaahan wa masaa`
In the book of Allah, we recite in the morning and the evening

Kam tazhaakkarnaa zamaanan yawma kunna su’adaa`
How many times when we remembered a time when we were happy

Bi kitaabillaahi natloohu sabaahan wa masaa`
In the book of Allah, we recite in the morning and the evening


Saturday, June 21, 2008

Kesenjangan Masyarakat Dalam Mendirikan Solat


"Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat, mereka berdiri dengan malas; mereka bermaksud riya' di hadapan manusia dan tidak menyebut Allah kecuali sedikit" (4:142)

Solat ni dah jadi masalah besar umat Islam kini. Semakin dalam menyelidiki masyarakat yang mengaku Islam, semakin tinggi undi tak percaya pada apa yang dikatakan. Dosa meninggalkan solat ni saya dah lihat di merata-rata tempat.

Dua bulan lepas, saya menghadiri latihan jalan lasak Jabatan Pertahanan Awam 3 (jpa3) yang bermula dari kampung pasir, sampai ke air terjun tepi jalan ulu yam. Perjalanan mengambil masa 6 jam 30 minit dengan beberapa 'checkpoint' bermula jam 1 pagi. Sampai ke destinasi dalam 7.30 pagi.. Saya berada di dalam kumpulan yang terakhir dilepaskn. Bila sampai , saya tengok kawan2 yang dah tiba sedang tidur atas jalan.

Saya tanya seorang pegawai yang berkawal,

"Cik, nak solat subuh di mana?"
"Erm.. cuba kau tengok kat bawah tu ada sungai"

Saya pun pelik.. cuba tengok? Diorang ni masih tak solat lagi kah? Kemudian saya pun turun ke bawah dan ambil wudhu'. Belum pun selesai, turun seorang pegawai panggil saya naik, dah nak bertolak balik. Saya pun akur, nanti kena tinggal pula. Tiba di HQ jam 8.30 pagi. Saya terus ke surau, untuk solat subuh dan waktu tu saya berseorangan ke surau walaupun jumlah peserta tak kurang 60 orang. Bila ditanya kenapa tak solat, tak sempat dan dah habis waktu katanya.

Takkan 1/60 saja yang menjaga solat? Kalau dihitung waktu yang diperlukan untuk solat lima waktu, rasanya tak sampai 10%. Apakah masalahnya sehingga umat ini dilanda masalah sebegini? Perkara meninggalkan solat ni dah diketauhi umum, apatah lagi melalaikan solat?

Sudah tentu ini terkait dengan masalah aqidah. Keyakinan terhadap agama yang dianuti semakin kurang dan lenyap. Solat merupakan tiang agama. Tanpa tiang, maka robohlah sesuatu binaan. Kesan dari meninggalkan solat ini jelas dilihat pada individu. Bagi saya, orang yang meninggalkan solat, sudah menganggap bahawa agama adalah tidak penting dalam hidupnya.

Sebenarnya, jika seseorang "hidup" di atas hakikat solat dan mihrabnya, akan merasa manisnya iman dan lazatnya taat, sehingga tidak menganggap solat itu berat dan tidak malas mengerjakannya. Bahkan, ia rindu ingin segera mengerjakan solat dan menunggu datangnya waktu dengan suka cita, agar ia merasakan ketenangan dengannya dan bahagia dapat berdiri di hadapat Allah.

Dengan berat hati, saya harus berkata kepada orang-orang yang malas solat, menganggap solat itu tidak penting, dan berat mengerjakannya, bahawa perilaku seperti itu adalah mirip sifat munafik. Oleh sebab itu, kita harus menjauhinya dan menghilangkannya jika memang ada dalam diri kita.

"Sesungguhnya orang - orang munafik itu ditempatkan pada tingkat neraka yang paling bawah dan kamu sekali- kali tidak akan mendapat seorangpun penolong bagi mereka" (4:145)

Wallahu'alam

Wednesday, June 18, 2008

Warna Warni Kehidupan

Mula-mula memang seronok kerja bertimbun-timbun.Tapi lama kelamaan, mula terasa bosan dan letih. Dah hampir 8 bulan 'industrial training'di Pernec Corporation Berhad, dah bermacam-macam yang dilalui. Mula-mula masuk, bosan asyik takda kerja.. bila dah lama, banyak pulak kerjanya, terasa bosan jugak. Jurusan elektrikal dn electronik, tapi buat web development. Ada juga yang releven seperti fleet management system, rectifier, transmission, communication tower. Tapi kerja2 macam tu dah cukup untuk menjadikan aku orang penting kat Pernec. Sehari tak datang, 2 department call tanya kat mana.

Checklist semasa:
1. Halaqoh mingguan
2. halaqoh sekolah
3. Weekly Report training, dah due date.
4. Final report training
5. Web development (x tahu la bile boleh siap)
6. video rendering and editing.
7. halaqah-online.com
8. ........

Mudah mudahan segalanya dipermudahkan Allah

Tuesday, June 10, 2008

Sudah Berapa Banyak Bekal Kita?


Sentiasa dalam perjalanan kehidupan ini, ada terminal untuk berhenti sejenak. Beberapa saat untuk duduk mengimbau perjalanan lalu. Sudah berapa jauh perjalanan kita menuju Pintu Gerbang Kematian? Berapa banyak bekal yang akan kita bawa memasuki Dunia Baru? bukan Dunia Baru tv3 tu.

Persoalan ini perlu kita ambil berat, walau di tengah kesibukan kerjaya atau belajar. Bekal kehidupan di akhirat pasti jauh lebih penting dari hanya kehidupan dunia. Itu semua kita tahu. Ketika harga barangan semakin meningkat, kos hidup melambung, kita masih sering resah. Kita sangat takut kita akan terkesan sama. Namun pernahkan kita betul2 takut bekal amal kita di akhirat? Yang mana terang terangan semakin susut dan bahkan negatif?

Kembali kita muhasabah diri. Betapa kehidupan akhirat jauh lebih baik dan kekal. Lalu mengapa perlu kita resah bagai orang yang kematian saudara tentang masalah ekonomi semata? Sudah saatnya kita menjenguk lebih dalam rohani kita untuk menabung bekal amal. Amal soleh tidak pelu kepada banyak tenaga dan belanja yang besar. Dengan berzikir, bersyukur kpd Allah, maka tabungan akan mengalir terus. Dengan hanya beramal, maka akan berbunga dan semakin besar bekal kita. Seunguh Allah Maha Adil, menambak bekal itu adalah percuma!

Berbeza dengan perkara lain yang perlu naik kereta, isi minyak yang berharga rm2.70 seliter. Belum dicamput dengan makanan yang memang dah naik. Lalu mengapa kita masih resah dengan dunia ini. Tiba waktunya untuk bangkit menambak bekal. Bukan duduk termenung merenung nasib.

Amal Shaleh boleh dibangun dengan lidah yang bertasbih, bertahmid dan bertakbir. Ya, betapa mudah dan betapa indahnya amalan dalam Islam. Bahkan untuk melafalkan zikir tak perlu permit pun. Ingatlah, selagi masih bernafas, selagi itu kita diberi peluang untuk menambah bekal. Mati itu kita tidak tahu bila masanya. Oleh itu, bersiap sedialah dan risaulah sentiasa dengan bekal akhirat kita.

Wallahu'alam
Posted by Picasa

Monday, June 09, 2008

Harga Minyak Malaysia Antara Yang Termahal

A Kadir Jasin

PADA hari Sabtu, 7 Jun, akhbar The Star menyiarkan berita bertajuk “PM: Get true picture of global oil price hikes” (PM: Dapatkan gambaran sebenar mengenai kenaikan global harga minyak.)

Kata Abdullah Ahmad Badawi beliau berharap rakyat jelata memperoleh maklumat yang betul agar dapat memahami apa yang sedang dihadapi negara.

Setiap orang daripada kita, kata Perdana Menteri, mempunyai peranan dan tanggungjawab masing-masing di dalam keadaan yang mencabar ini.

“Dengan itu, marilah kita menghadapi bersama cabaran ini dengan daya tahan demi kebaikan negara dan generasi akan datang.”

Tetapi rata-rata, reaksi rakyat jelata boleh disimpulkan begini -- peranan kerajaan menarik balik subsidi minyak dan menaikkan harga minyak. Tanggungjawab kami adalah menganggung bebannya.

Mengambil ilham daripada seruan Perdana Menteri itu, saya melayari Internet untuk “mendapatkan gambaran sebenar” mengenai kenaikan 41 peratus harga minyak itu.

Sekarang fahamlah saya bahawa akibat kenaikan harga sebanyak 78 sen seliter pada tengah malam Rabu lalu itu, harga petrol kini RM2.70 seliter atau RM10.20 segelen Amerika (US gallon). Dalam Dolar Amerika, ia bersamaan AS$3.12 segelen (AS$0.82 seliter).

(Saya terpaksa mengubah kepada gelen dan Dolar Amerika kerana perangkaan global menggunakan ukuran gelen dan Dolar Amerika. Segelen Amerika bersamaan 3.785 liter. Kadar tukaran adalah RM3.27 kepada satu Dolar Amerika.)

Pada kadar AS$3.12 segelen, harga petrol di Malaysia adalah lebih murah daripada di Amerika Syarikat di mana harganya melepasi AS$4.00 (RM13.08) segelen.

Tetapi kita kena ingat Amerika jauh lebih kaya daripada kita. Mengikut Buku Fakta (Fact Book) Agensi Perisikan Pusat (CIA) Amerika, pendapatan purata berdasarkan pariti kuasa membeli (purchasing power parity) rakyat Amerika adalah AS$46,000 tahun lalu.

Dalam bahasa yang mudah, jika pendapatan dibahagikan sama rata, setiap orang penduduk Amerika mempunyai kuasa membeli bernilai AS$46,000 berbanding kita sebanyak AS$14,400.

Itu pun bukan semua rakyat Malaysia mempunyai kuasa membeli sebanyak AS$14,400. Hanya segelintir sahaja yang mempunyai kuasa membeli sebesar itu.

Majoritinya adalah berpendapatan sederhana dan rendah. Mereka inilah yang paling teruk menderita akibat kenaikan harga barang dan perkhidmatan yang akan dicetuskan oleh kenaikan harga minyak.

Segelen minyak berharga AS$4.00 bagi penduduk Amerika adalah “murah” kerana pendapatan dan kuasa membeli mereka tinggi. Manakala pada kadar AS$3.12 segelen bagi penduduk Malaysia adalah “mahal” kerana pendapatan kita rendah.

Pendapatan penduduk Amerika lebih tiga kali ganda daripada pendapatan penduduk Malaysia. Lagipun Amerika adalah negara pengimport bersih minyak manakala kita adalah negara pengeksport. Maksudnya kita mengeksport lebih banyak minyak mentah daripada mengimport.
Para pembesar kita sering mengatakan harga minyak petrol lebih mahal di Singapura. Betul. Harga segelen petrol di Singapura, mengikut laman web Shell Singapura, adalah sekitar AS$6.28 segelen.

Tetapi pendapatan per kapita PPP penduduk Singapura adalah AS$48,900 atau 3.4 kali ganda lebih tinggi daripada pendapatan per kapita PPP kita. Lagipun Singapura negara kecil, pengangkutan awamnya bagus, tambangnya berpatutan dan Singapura tidak ada setitik minyak pun .

Selain itu mereka ada “pilihan”. Mereka boleh menyeberang ke Johor untuk membeli petrol. Bagi membeli segelen di Malaysia mereka hanya perlu membelanjakan sekitar S$2.63 atau AS$1.92 kerana nilai duit mereka lebih tinggi daripada ringgit Malaysia (RM1 bersamaan 42 sen Singapura.)

Tetapi akibat dasar “flip-flop” kerajaan kita – sekejap tidak boleh dijual kepada orang asing dan sekejap boleh -- penduduk Singapura yang berkali-kali ganda lebih kaya daripada kita menikmati durian runtuh setiap kali mengisi minyak di Malaysia.

Rakyat rasa tertipu dan keliru. Pada 3 Jun Menteri Perdagangan Dalam Negara dan Hal Ehwal Pengguna Shahrir Abdul Samad berkata harga minyak hanya akan naik pada bulan Ogos.

Susah kita hendak faham. Berita ini tersebar satu dunia. Jadi Shahrir cakap karut atau memang harga akan naik hanya pada bulan Ogos tapi entah macam mana bos dia naikkan harga lebih awal.

Jadi saya nak tanyalah sikit. Shahrir tidak hadir mesyuarat Kabinet kah? Tidak masuk akal kalau Kabinet tidak dibawa berunding mengenai keputusan menarik balik subsidi dan menaikkan harga minyak yang sangat berat kesannya kepada rakyat jelata.

Atau (atau) Shahrir cuba memberi amaran bahawa kerajaan akan menaikkan harga minyak sekali lagi Ogos ini?

Satu lagi tabiat buruk sesetengah pembesar kita adalah kecenderungan mereka membandingkan Malaysia dengan negara-nagara yang lebih miskin dan lebih mundur.

Kalau kita hendak banding negara kita dengan negara-negara miskin, tidak perlulah kita bersusah payah hendak menjadi negara maju. Kita jadi sajalah macam negara-negara miskin yang kucar-kacir dan rakyat jelatanya menderita.

Perdana Menteri bercakap mengenai kebajikan generasi akan datang. Apakah prospek mereka jikalau hari ini pun mereka tidak cukup makan, tidak cukup pakai dan tidak cukup persekolahan kerana kos sara hidup dan inflasi yang tidak terkawal?

Jadi itulah lebih kurang kefahaman saya setelah membuat sedikit kajian seperti yang disarankan oleh Perdana Menteri ketika berucap sempena Hari Keputeraan Yang di-Pertuan Agong di Istana Negara Sabtu lalu.

Kesimpulannya, harga minyak petrol (dan juga diesel) di negara kita kini adalah antara yang termahal di dunia berasaskan pariti kuasa membeli (purchasing power parity).

Ia semestinyalah akan memberi kesan yang luas terhadap kuasa membeli dan inflasi serta prestasi ekonomi keseluruhannya.

Sunday, June 08, 2008

Kesatuan Hati


Ruh-ruh itu adalah tentara-tentara yang selalu siap siaga, yang telah saling mengenal maka ia (bertemu dan) menyatu, sedang yang tidak maka akan saling berselisih (dan saling mengingkari)”. (HR. Muslim)

“Dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelajakan semua (kekayaan) yang berada dibumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (QS. 8:63)

“Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui bahwa hati-hati ini telah bersatu berkumpul untuk mencurahkan mahabbah hanya kepadaMu, bertemu untuk taat kepada-Mu, bersatu dalam rangka menyeru (dijalan)-Mu, dan berjanji setia untuk membela syariat-Mu, maka kuatkanlah ikatan pertaliannya, ya Allah, abadikanlah kasih sayangnya, tunjukkanlah jalannya dan penuhilah dengan cahay-Mu yang tidak pernah redup, lapangkanlah dadanya dengan limpahan iman dan keindahan tawakkal kepada-Mu, hidupkanlah dengan ma’rifat-mu, dan matikanlah dalam keadaan syahid di jalan-mu. Sesungguhnya Engkau sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong”.

Amin…
Posted by Picasa

Saturday, June 07, 2008

Minyak oh Minyak..


Subhallah.. harga minyak naik lagi. Dari rm.192 hingga rm2.70. Tapi xpe, naik 78 sen je. Apalah sangat, tak sampai seringgit pun. Pagi tadi isi minyak motor, biasa isi RM 5 dah cukup dah.. tinggal suku je lagi nak penuh. Tapi separuh pun x sampai, waduh2..

Kalau minyak je yang naik boleh tahan lagi. Tapi tau la kan, minyak ni sumber segala galanya. Takda minyak, kereta tak jalan, lori tak dapat nak hantar barang, perniagaan akan terbantut, ekonomi jadi lembab. Jadi, solusinya harga barang akan meningkat. Baru semalam pergi makan kat kedai greewood.. order nasi goreng paprik. dulu rm 4, skrg rm 5! roti canai tak tengok lagi, rasanya dah mencecah rm 1. Kuih dulu boleh dpt lagi 3 rm1. Sebelum minyak naik 1 kuih 40 sen. Sekarang tak tahulah pula.

Apalah nak jadi dengan Malaysia ni, negara pengeluar minyak, dan pengeksport minyak! xde pun malaysia import minyak rasanya. sangat tak logic kalau harga jualan sendiri perlu ikut harga pasaran. Tiga tahun lepas harga minyak 30usd 1 barrel. Sekarang 130usd 1 barrel. Harga kos minyak yg diproses petronas dah tentu tak berubah. utk eksport dah tentu petronas dpt untung atas angin 100usd.

Subsidi yg diberi kerajaan pun macam tak relevan je. untk kereta bawah 2000cc, rm600++ (x ingat). Bayangkan, orang kaya yg, simpan subaru impreza 2.0, mercedes compressor 2.0, corolla altis, then kereta tu pakai kadang2 je. Sbb banyak kereta. subsidi yg diorang dapat pun kali 3. berbanding dgn orang macam kita ni. Ada wira sebijik, keta tu la nak pg hanta anak skolah, nak pg kerja, nak travel, untuk emergency lagi. Macam ape je..

rasa macam agenda Pak Lah lak nak kaut untung banyak2 sebelum turun takhta.

Apa-apa pun, sebagai muslim, ambillah benda ni sebagai iktibar. Mudah mudahan dpt mengajar kita erti kesabaran dan ketabahan. Tapi sabar2 pun tak jalan jugak, sampai bile nak sabar? 12 july ni ada perhimpunan di KLCC. jemput ramai-ramai. Untuk para da'ie sekalian, jadikn kenaikn living cost ni sbgai satu cabaran dlm dakwah kita. Travel cost dah tentu naik gila2 punya. Menuntut pengorbanan yg lebih. InsyaAllah, subsidinya biar Allah yang bayar.

Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan atau pun merasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. (9:41)

wallahu'alam
Posted by Picasa